April, Nilai Ekspor Meningkat 0,72 Persen

Pangkalpinang – April 2015 nilai ekspor Provinsi Kepulauan Bangka Belitung meningkat signifikan sebesar 0,72 persen atau sekitar US$ 86,37 juta. Pasalnya di bulan sebelumnya, nilai ekspor hanya sebesar US$ 85,76 juta. Total ekspor tersebut terbagi atas ekspor timah US$ 77,34 juta dan non timah sebesar US$ 9,03 juta.

Agung Rachmadi Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merinci, total ekspor Januari–April mengalami penurunan secara signifikan sebesar 10,96 persen dibanding Januari-April 2014 dari US$ 463,99 juta menjadi hanya US$ 413,14 juta. Penurunan nilai ekspor disebabkan turunnya ekspor non timah hingga 19,83 persen dari US$ 77,36 juta menjadi US$ 62,02 juta.

“Ekspor timah mengalami penurunan sebesar 9,18 persen dari US$ 36,63 juta menjadi hanya US$ 351,12 juta,” jelasnya saat jumpa pers Badan Pasat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Jumat (15/5/2015).

Tujuan utama ekspor timah Januari-April 2015 adalah Singapura, mencapai US$ 233,46 juta atau 66,49 persen dari keseluruhan ekspor timah. Ia menambahkan, negara tujuan selanjutnya Belanda US$ 37,59 juta (10,70) persen, India US$ 25,47 juta (7,25 ) persen dan Taiwan US $ 25,36 juta (7,22) persen. Sementara tujuan ekspor ke Korea Selatan US$ 9,88 juta (2,81) persen.

“Kontribusi kelima negara tersebut mencapai 94,48 persen dari total ekspor timah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,” katanya.

Dibanding Maret 2015, ungkapnya, terjadi peningkatan ekpor timah sebesar 11,59 persen yaitu dari US$ 69,31 juta menjadi US$ 77, 34 juta. Peningkatan terbesar pengiriman ke Korea Selatan yaitu dari tidak ada pada bulan lalu menjadi sebesar US$ 1,53 juta. Diikuti negara Singapura sebesar 26,80 persen yaitu dari US$ 42,79 juta menjadi US$ 54,25 juta.

Tiga negara tujuan utama ekspor timah mengalami penurunan terbesar yaitu Belanda sebesar 39,65 persen menjadi hanya US$ 5,31 juta. Kemudian, jelasnya, diikuti India dan Taiwan yang masing-masing mengalami penurunan sebesar 33,34 dan 14,92 persen atau menjadi sebesar US$ 4,93 juta dan US$ 6,65 juta.

“Komoditi utama penyumbang ekspor non timah terbesar Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, bulan Januari-April 2015 berdasarkan kode Harmonized System (HS) 2 digit golongan minyak atau lemak hewani dan nabati sebesar US $ 42,1 juta. Angka tersebut berperan 67,92 persen terhadap total ekspor non timah,” tegasnya.

Komoditi selanjutnya golongan kopi, teh dan rempah-rempah US$ 15,6 juta (25,15), ikan dan hasil olahan ikan US$ 2,2 juta (3,61 persen), berbagai produk kimia US$ 1,0 juta (1,62 persen). Terbaru adalah golongan residu/sisa industri makanan US$ 0,7 juta (1,20 persen). Kontribusi kelima golongan barang non timah mencapai 99,50 persen dari total ekspor non timah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Dibanding bulan sebelumnya Maret 2015, kata Agung, terjadi penurunan ekspor total lima golongan barang hingga 44,48 persen. Ekspor terbesar tetap golongan minyak atau lemak hewani dan nabati sebesar US$ 5,2 juta. Diikuti kopi, teh dan rempah-rempah US$ 3,2 juta, ikan dan hasil olahan ikan sebesar US$ 0,5 juta dan ikan dan residu/sisa industri makanan sebesar US$ 0,2 juta. Sedangkan berbagai produk kimia pada bulan ini tidak di ekspor.

Secara total ekspor non timah, ke tujuh negara tujuan utama pada periode Januari-April 2015 mencapai US$ 57,1 juta. Ia menambahkan, angka ini naik sebesar 16,13 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang hanya US$ 49,1 juta. Terdapat kenaikan ekspor non timah terbesar adalah negara Pakistan, Belanda dan India yang pada tahun sebelumnya tidak ada.

Agung merinci, sejumlah kenaikan ekspor ke masing-masing negara tersebut sebesar US$ 17,5 juta, US$ 10,9 juta dan US$ 3,6 juta. Diikuti Vietnam dan Malaysia terjadi peningkatan masing-masing sebesar 287,55 dan 96,20 persen menjadi US$ 7,6 juta dan US$ 3,8 juta. Sedangkan negara Singapura dan Banglades mengalami penurunan.

Negara tujuan utama ekspor non timah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bulan April 2015 yaitu Belanda. Menurutnya, nilai ekspor ke negara tersebut mencapai US$ 3,2 juta, dengan komoditi eksor terbesar crude palm oil. Posisi kedua ditempati negara Malaysia mencapai nilai US$ 2,4 juta, dengan komoditi ekspor terbesar yaitu crude palm oil serta ikan dan hasil olahan ikan.

“Diikuti Vietnam US$ 1,7 juta dengan komoditas lada putih dan Singapura US$ 0,8 juta dengan komoditas yang sama. Sedangkan pada bulan April 2015, tidak ada ekspor ke negara Pakistan, Banglades dan India,” jelasnya.

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Evani
Fotografer: 
Nona Dian Pratiwi
Editor: 
Huzari