Babel Siapkan Cual Sebagai Usulan Warisan Budaya Dunia UNESCO

PANGKALPINANG--- Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Pemprov Babel) melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Babel berencana mengusulkan kain Cual sebagai Warsan Budaya Dunia UNESCO.

Kepala Pengembangan Kebudayaan Disbudpar Babel Zuardi mengatakan, kain Cual yang telah menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia akan dikaji lebih mendalam guna mempersiapkannya sebagai usulan Warisan Budaya Dunia UNESCO.

“Kain Cual merupakan salah satu WBTB Indonesia yang berasal dari Bangka Belitung. Tahun ini akan dikaji lebih mendalam pada kegiatan Kajian Tradisi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Rencananya akan kita usulkan sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO,” kata Zuardi yang ditemui di ruang kerjanya Jumat (23/2).

Menurut Hera Riastiana, Pengelola Urusan Kerjasama Pengembangan Seni dan Budaya selaku Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), kain Cual memiliki beberapa hal yang menjadi alasan untuk diusulkan sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO.

“Selain merupakan WBTB Indonesia, kain Cual memiliki nilai simbolik yang menggambarkan filosofi masyarakat Bangka. Selain itu, alasan penting lainnya kain Cual juga memiliki nilai sejarah masyarakat Bangka Belitung,” tutur Hera di Kantor Disbudpar Babel Jumat (23/2).

Alasan lainnya, lanjut Hera, karena kain Cual menggambarkan perkembangan teknologi masyarakat dan juga dapat dikembangkan sebagai ekonomi kreatif. Disamping itu, sejarah kain Cual yang masih mudah ditelusuri juga turut memudahkan dalam pendalaman kajian.

“Sejarah kain Cual ini bisa dikatakan masih mudah untuk ditelusuri sejarahnya, di Pulau Bangka. Jadi mempermudah kita dalam memperkaya data untuk diusulkan sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO,” kata Hera.

Hera juga menjelaskan pengusulan Warisan Budaya Dunia UNESCO tidak memakan waktu yang sedikit. Ada sejumlah tahapan yang harus dilalui dalam pengajuan atau pengusulan Warisan Budaya Dunia UNESCO.

“Untuk pengusulan Warisan Budaya Dunia UNESCO memang panjang dan tidak sebentar tahapannya. Mulai dari persiapan data, mendiskusikan karya budaya yang akan dinominasikan, pengumpulan data, melakukan kajian literatur, penyusunan naskah nominasi ICH (Intangible Cultural Heritage) hingga finalisasi naskah nominasi ICH UNESCO,” jelas Hera.

Dikatakan Hera tahun ini, penelitian terhadap kain Cual dilakukan di Desa Patenun yang ada di Muntok, Bangka Barat. Pengkajian yang diperkirakan memakan waktu lebih dari empat bulan ini difokuskan pada motif dan fungsi kain Cual. Hal ini karenakan belum ada yang dapat mendefinisikan kain Cual secara jelas tanpa rancu.

“Lokasi pengkajian kain Cual ini berlokasi di Desa Patenun di Muntok, yakni desa yang dulunya para perempuanya banyak yang menenun. Makanya dibilang Desa Patenun,” kata Hera.

Setelah dilakukan pengkajian mendalam, peneliti akan membuat hasil kajian dalam bentuk draft awal buku yang kemudian disunting oleh editor. Setelah itu, diadakan kegiatan bedah buku atau diskusi untuk memperkuat hasil kajian, dengan melibatkan para budayawan, sejarawan, pengrajin Cual, dan instansi pemerintah terkait.

 

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Ernawati Arif (Pranata Humas Disbudpar Babel)
Fotografer: 
Istimewa
Editor: 
Irwanto