Bandara Depati Amir Bakal Dikembangkan dan Jadi Bandara Internasional

PANGKALPINANG-- PT Angkasa Pura II akan melakukan Review Rencana Induk Bandara Depati Amir Pangkalpinang. Hal ini dilakukan untuk merespon peningkatan jumlah penumpang yang melebihi estimasi KP 623 tahun 2012 dan perubahan layout dalam pengembangan. Selain itu pihak PT Angkasa Pura II mendukung rencana Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk menjadikan Bandara Depati Amir Pangkalpinang menjadi Bandara Internasional.

Rencananya pengembangan Bandara Depati Amir Pangkalpinang akan dilakukan dalam tiga tahap. Beberapa diantaranya, pada tahap pertama runway yang sekarang 2250 meter x 45 meter akan diperpanjang menjadi 2600 mter x 45 meter. Sedangkan untuk apron dari 410 meter x 92 m menjadi apron 420 meter x 123 meter.

Dijelaskan oleh General Manager Bandara Depati Amir Pangkalpinang Chuanda, sampai dengan 2017, pergerakan penumpang mencapai 2.053.947 Pax/tahun. Diproyeksikan pergerakan penumpang akan mencapai 5.205.583 Pax/tahun.

"Review Rencana Induk dilakukan untuk mengakomodir rencana pengembangan dan perubahan yang sudah ada, yang tidak tertampung dalam masterplan yang lama," kata Chuanda pada saat Focus Group Discussion (FGD) Review Rencana Induk Bandara Depati Amir Pangkalpinang, di Ruang Rapat Celagen Kantor Bappeda  Babel, Kamis (3/4).

Ditambahkan Chuanda, pihak PT Angkasa Pura II mendukung rencana Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk menjadikan Bandara Depati Amir Pangkalpinang menjadi Bandara Internasional, bahkan pihaknya sudah mengundang investor dari lima negara untuk pengembangan.

"Pengembangan bandara juga untuk mendukung dua Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata yang akan ada di Bangka," kata Chuanda.

Pada saat FGD, Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Provinsi  Babel, Budiman Ginting mengatakan secara geografis letak Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sangat strategis dan merupakan daerah potensial untuk berkembang.

"Secara geografis letak Babel sangat strategis, dekat dengan luar negeri dan dapat menjadi center untuk Indonesia Bagian Barat untuk Kalimantan, Sumatera dan Jawa," kata Budiman Ginting.

Menurut Budiman Ginting, dalam pengembangan Bandara Depati Amir perspektif yang harus digunakan adalah perspektif Bandara Internasional.

"Paling utama sekarang adalah pariwisata, apabila pariwisata hidup dipastikan akan menaikkan kapasitas penumpang. Untuk arus internasional harus dibuka, tapi bukan dipaksakan, namun karena kebutuhan konsumen, jadi mau tidak mau pihak maskapai akan membuka rute keluar negeri," kata Budiman Ginting.

 

 

 

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Rizky Fitrajaya (Pranata Humas Bappeda Babel)
Fotografer: 
Rizky
Editor: 
Irwanto