BGR Jerman Ingin Lakukan Pilot Project Reklamasi Bekas Tambang Timah Di Babel

Pangkalpinang – Dr. Phillip Schutte dari Bundensanstalt fur Geowissenschaften und Rohstoffe (BGR) / Federal Institute for Geosciences and Natural Resources German, bertemu dengsn Gubernur Bangka Belitung Erzaldi Rosman untuk rencana pembahasan pilot project reklamasi bekas tambang timah, Kamis (28/09/2017).

BGR merupakan sebuah organisasi dari Jerman yang melakukan kerjasama dengan Kmenterian Energi dan Sumber Daya Mineral dan LSM TELAPAK untuk melakukan penelitian tentang reklamasi lahan bekas tambang timah.

Kepada Gubernur, latar belakang BGR hendak melakukan penelitian tersebut karena ingin tahu mengetahui penyebab kegagalan reklamasi tambang timah di Bangka Belitung.

“Sebab mereka melakukan penelitian ini adalah karena beberapa kali reklamasi mengalami kegagalan, sehingga mereka bertanya-tanya apa yang menjadi masalahnya,”, ujar Gubernur.

Untuk itu, BGR akan melakukan berbagai penelitian di salah satu lokasi bekas tambang timah di Bangka Belitung untuk menjadi pilot project. Selain melakukan kerjasama dengan LSM TELAPAK dalam penelitian tersebut, BGR juga melakukan kerjasama dengan para ahli dari Institut Pertanian Bogor dan Institut Teknologi Bandung.

“Mereka akan melakukan penelitian terhadap unsur tanah, unsur air, dan lainnya. Kemudian hasil dari data ini akan disampaikan ke Kementerian ESDM. Nantinya setelah laporan tersebut selesai, maka Kementerian ESDM akan mengambil kebijakan dalam melakukan reklamasi yang baik dan benar sesuai dengan pandangan mereka,” jelas Gubernur.

“Harapan kita hasil dari penelitian ini nantinya bisa memberikan manfaat kepada masyarakat Bangka Belitung dan memberikan panduan bagaimana melakukan reklamasi yang berada di lahan bekas tambang timah,” terang Gubernur.

Menurut Dr. Phillip Schutte, BGR ingin mendukung sustainable reclamation (reklamasi yang berkelanjutan) dengan transfer knowledge kepada daerah-daerah yang memiliki permasalahan dalam melakukan reklamasi bekas tambang timah.

“Kami mencoba melihat faktor-faktor apa yang diperlukan agar reklamasi ini berjalan sukses untuk jangka waktu yang lama. Hal ini dilakukan tidak hanya di negara Indonesia, tetapi juga di berbagai negara Asia Tenggara, seperti Malaysia dan Thailand yang juga mengalami permasalahan dengan reklamasi,” ungkapnya.

“Sehingga apabila ini berhasil maka dapat di transfer pengetahuan tersebut dapat digunakan untuk diterapkan di negara-negara lainnya,” tutup Phillip.

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Khalimo
Fotografer: 
Khalimo