BPBD dan Basarnas Dikawal Tentara Bersenjata Lengkap

MANGGAR-- Usaha pencarian nelayan korban terkaman buaya di Muara Sungai Sembulu Desa Batu Itam Kecamatan Simpang Pesak Belitung Timur, Juhardi (47) belum menemui hasil. Pada pencarian hari ke dua pada Jumat (2/2) yang ditemukan hanya baju dan celana yang dipakai korban. Sementara Komandan Basarnas Pos SAR Belitung Timur, Supani minta agar anggota TNI/Polri bersenjata lengkap turut mendampingi pencarian korban. Hal ini untuk memberikan rasa aman dan menambah keberanian BPBD dan  Basarnas yang turun di lapangan.

Dari hasil temuan baju dan celana, dapat dipastikan jika korban positif diterkam buaya. Tampak bekas gigitan pada celana dan robek cakaran di baju korban.

Pencarian pun difokuskan ke hulu Sungai Sembulu, sekitar lima kilometer dari muara sungai lokasi dugaan korban diterkam. Tim menyisir sepanjang tepi sungai dan lokasi yang diduga sarang buaya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Belitung Timur (Beltim), Ikhwan Fahrozi menyatakan di hari kedua ini sudah menurunkan 40 orang yang terdiri Basarnas, TNI AD, TNI AL, Polres Beltim, dan Tagana serta dibantu masyarakat. Pencarian dimulai pada Pukul 08.00 hingga 16.00 WIB.

“Tidak bisa sampai malam, kondisinya alamnya sangat berbahaya. Banyak binatang buas, sungai ini memang terkenal dengan buaya yang nakal. Keselamatan tim adalah yang utama,” kata Ikhwan.

Selain berisiko tinggi, kendala yang dihadapi tim di lapangan adalah medan sungai yang menyempit dan beberapa tempat mengalami kedangkalan. Hal ini membuat kapal susah bergerak bebas akibat lebatnya pepohonan manggrove.

“Kita tidak bisa menurunkan kapal karet karena tidak memungkinkan. Dari Basarnas menurunkan kapal dolphin dengan dibantu 3 kapal dari nelayan sekitar,” ungkap Ikhwan.

Mengingat kondisi lokasi yang sulit dan berbahaya, Sekda Beltim itu menyatakan pencarian akan dilakukan selama tiga hari. Jika ada permintaan keluarga dan kondisi dianggap memungkinkan waktu pencarian akan ditambah maksimal tujuh hari.

“Untuk semua logistik sudah kita suply, BBM, dapur umum dan kebutuhan lainnya. Keluarga korban juga kita berikan bantuan untuk meringankan beban mereka,” ujarnya.

Pantauan Diskominfo Beltim di lapangan, setidaknya ada tiga senjata laras panjang, satu orang TNI AD membawa M 16, dan dua orang personil Polres Beltim menyandangkan SS1 V2. Mereka ikut mengawal proses pencarian dengan menggunakan kapal dolpin Basarnas.

“Kalau pencarian sekarang ini kita memang perlu bantuan dari rekan-rekan TNI/Polri bersenjata lengkap untuk memback-up pencarian mengingat di lokasi ini dipenuhi dengan buaya,” kata Supani.

Supani membeberkan jika banyak masyarakat yang resah dengan ganasnya buaya di Sungai Sembulu. Ia menyebut jika sudah ada empat kasus penyerangan buaya dalam kurun waktu tiga tahun belakangan ini.

Pria berpangkat Kapten itu pun mengatakan dengan tiga senjata laras panjang yang diturunkan sudah cukup. Hal tersebut dapat menambah keberanian anggota basarnas dan tim yang diturunkan.

“Lebih berani saja, kalau dikawal bersenjata lengkap. Soalnya kalau hanya mengandalkan parang atau tombak sangat berisoko,” ujarnya.

Korban penerkaman buaya Sungai Sembulu diketahui hilang saat sedang menjala ikan pada Rabu (31/1) lalu. Hilangnya bujangan warga Desa Batu Itam Kecamatan Simpang Renggiang baru diketahui Kamis (1/1).

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Diskominfo Belitung Timur
Fotografer: 
Diskominfo Belitung Timur
Editor: 
Irwanto