Butuh 48 Tahun Mengembalikan Lahan Kritis Menjadi Prima

Muntok – Diperkirakan terdapat seluas 24,3 juta hektare lahan kritis di Indonesia. Luas lahan tersebut tersebar di seluruh wilayah provinsi, kabupaten dan kota. Jika penyelesaian lahan kritis seluas 500.000 hektare per tahun, dibutuhkan waktu 48 tahun untuk mengembalikan lahan kritis menjadi lahan prima.

Hal ini diungkapkan Yuswandi A Temenggung Plt Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung saat peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia dan Bulan Menanam Pohon Nasional di Hutan Tahura Sungai Daeng Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Senin (28/11/2016).

Kepala daerah diimbau mengalokasikan satu persen dana APBD untuk kegiatan penanaman dan pemeliharaan pohon. Selain itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI meminta rektor PTN, PTS dan kepala sekolah SD, SMP, SMA mengajak mahasiswa dan pelajar menanam dan memelihara pohon.

Selanjutnya, meminta kepala Kantor Kementerian Agama kabupaten, kota dan kepala kantor urusan agama mewajibkan kepada setiap pasangan calon pengantin menanam dan memelihara pohon masing-masing lima batang.

Perlu ada upaya mengembalikan kejayaan industri kayu Indonesia sebagai sumber devisa melalui pengembangan hutan rakyat. Ia mengatakan, untuk itu dibutuhkan bibit tanaman berkualitas, bersertifikasi seperti Jati, Mahoni, Jabon, Sengon dan Gmelina.

Terdapat 50 persemaian permanen kantor BPDASHL tersebar di Indonesia telah menyiapkan bibit gratis untuk masyarakat. Pemenuhan bahan baku industri kayu ini tidak boleh melupakan kebutuhan pangan masyarakat.

“Dalam melakukan penanaman dapat dikombinasikan antara tanaman kehutanan dengan tanaman pertanian untuk kebutuhan jangka pendek, menengah dan panjang. Sehingga terwujud hutan lestari dan masyarakat sejahtera,” kata Yuswandi.

Keberhasilan program penanaman dan pemeliharaan pohon sangat tergantung pada tepat perencanaan, tepat pemilihan jenis, tepat pembibitan, tepat waktu penanaman, tepat waktu pemeliharaan dan tepat pemanenan. Kejayaan ini nantinya bukan saja dijadikan momentum, tapi jadikan budaya.

“Ingatkan diri bahwa pohon merupakan ciptaan Tuhan. Keberadaanya sangat penting bagi kehidupan manusia dalam menyediakan oksigen. Apabila kita merasa pohon membantu kita, maka manusia akan hidup nyaman dan lestari,” jelasnya.

Sementara Parhan Ali Bupati Bangka Barat mengatakan realitanya lingkungan sudah rusak.  Akibatnya pada musim hujan terjadi banjir dan dimusim kemarau dilanda kekeringan. Jadikanlah momen ini sebagai bentuk kecintaan terhadap bumi, menyadari hutan sebagai penyanggah kehidupan.

“Keberadaan pohon sebagai penyanggah kehidupan dan menjamin kesediaan air, kebutuhan pangan dan penghasil oksigen serta keragaman hayati,” paparnya.

 

Sumber: 
Diskominfo Babel
Penulis: 
Evani
Fotografer: 
Nona Dian Pratiwi
Editor: 
Huzari | Adi Tri Saputra