Data jadi Faktor Pendukung Penyusunan Program, Begini Langkahnya

PANGKALPINANG -- Keakuratan data menjadi salah satu faktor pendukung penyusunan program agar tepat sasaran. Sementara ini kasus kekerasan terhadap perempuan cenderung meningkat, namun laporan pencatatannya belum maksimal. Padahal sistem pencatatan dan pelaporan data kekerasan merupakan kunci menentukan program.

Asisten I Setda Kepulauan Bangka Belitung Bidang Pemerintahan dan Kesra Yulizar Adnan menjelaskan, laporan pencatatan kasus kekerasan terhadap perempuan belum maksimal. Ini dikarenakan minimnya data unit pelayanan penanganan korban kekerasan serta belum optimalnya mekanisme koordinasi.

"Perlu peningkatan sistem pencatatan dan pelaporan kekerasan di unit layanan masing-masing daerah," tegas Yulizar di Hotel Puncak saat Pelatihan Simfoni Bagi Operator dan Lembaga Layanan Pengaduan Tingkat Kabupaten/Kota di Tingkat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2018.

Kegiatan yang dimotori DP3ACSKB Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini dijadwalkan berlangsung selama tiga hari. Adapun tanggal pelaksanaan dimulai Senin (22/10/2018) sampai Rabu (24/10/2018). Bertindak sebagai narasumber dari Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak RI Anugrah Pambudi Raharjo dan fasilitator daerah. 

Kegiatan pelatihan ini melibatkan admin simfoni dinas PPPA kabupaten/kota wilayah Bangka Belitung, P2TP2A kabupaten kota, LPA, UPPA Polda Babel dan unit layanan pengaduan kekerasan yang dikelola masyarakat.

Lebih jauh ia menjelaskan, sistem pencatatan dan pelaporan data kekerasan merupakan kunci menentukan program dan kegiatan agar tepat mengatasi masalah kekerasan di negeri ini. Diharapkan peserta pelatihan antusias dan bersemangat, memperkaya ilmu dari narasumber dan fasilitator.

"Apa yang bapak/ibu kerjakan di sini sangatlah penting dalam upaya menciptakan program dan kegiatan untuk mengurangi angka kekerasan yang terjadi di Bangka Belitung ini," harap Yulizar.

Sementara Kepala DP3ACSKB Susanti mengatakan, salah satu urusan DP3ACSKB yaitu sistem data Gender dan anak. Kegiatan ini difokuskan membahas persoalan tersebut. Tahun 2015, data kekerasan perempuan dan anak tak terlalu banyak, lalu tahun 2016 data meningkat. Kemudian 2017 dan 2018 datanya menurun. 

Namun Susanti mengkhawatirkan, penurunan data akhir-akhir ini disebabkan karena orang atau korban enggan melaporkan tindak kekerasan yang terjadi. Sehingga ini menggambarkan fenomena gunung es. Laporan data kekerasan perempuan dan anak paling banyak terjadi di Kota Pangkalpinang.

"Data laporan kekerasan yang realtime dievaluasi dan direkap setiap bulan merupakan hal penting untuk perencanaan dan pengambilan kebijakan," tambah Susanti.

Kabid Perlindungan Perempuan dan Anak DP3ACSKB Ida Adrizah mengatakan, aplikasi Simfoni PPA telah dibangun sejak tahun 2016 dan telah mengalami perkembangan. Operator Simfoni perlu mengupdate informasi dan skill agar dapat mengoperasikan serta memanfaatkan aplikasi tersebut di seluruh layanan.

"Selain meningkatkan kompetensi SDM, DP3ACSKB dan kompetensi petugas input Simfoni PPPA kabupaten/kota, kegiatan ini juga bertujuan agar tersedianya data kekerasan terhadap perempuan dan anak mulai dari tingkat UPT hingga kabupaten/kota, provinsi dan nasional," jelas Ida.

Sumber: 
DP3ACSKB Babel
Penulis: 
Lisia Ayu
Fotografer: 
Aisyah Putri
Editor: 
Huzari