Dewan Ketahanan Nasional Kunjungi Babel Dalam Rangka Pengumpulan Materi Perumusan Kebijakan Nasional

PANGKALPINANG – Tim Setjen Dewan Ketahanan Nasional kunjungi Kantor Gubernur Kepulauan Bangka Belitung pada hari Rabu (8/3/2017) dalam rangka pengumpulan materi perumusan kebijakan nasional di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Tim Setjen WANTANNAS tersebut diterima oleh Sekretaris Daerah beserta jajaran Kepala Dinas dilingkungan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Tim tersebut terdiri dari Deputi Politik dan Strategi Irjen Pol Drs.Tjetjep Agus S, MM, MH, Pembantu Deputi Marsma TNI Deri Pemba Syafar, MM, Analis Kebijakan Kolonel Inf Suherlan, Analis Kebijakan Kolonel Lek Dr.Arwin DW Sumari, ST, MT dan dan Staf Ahli Dr.Sumantri, SPd, Msi.

Irjen Tjetjep Agus menjelaskan bahwa Dewan Ketahanan Nasional diketuai oleh Presiden RI dan terdiri dari 14 anggota tetap, antara lain empat Menko serta para Menteri, BIN, TNI dan POLRI, sedangkan kegiatan harian dilaksanakan oleh Sekretariat Jenderal WANTANNAS yang saat ini dipimpin oleh Letjen TNI Nugroho  Widyotomo.

Tugas Tim ke Bangka Belitung adalah mencari data-data atau belanja masalah, yang selanjutnya akan dilakukan kajian untuk memberikan masukan kepada Presiden RI selaku Ketua WANTANNAS. WANTANNAS pada intinya bertanggungjawab dalam membuat kajian-kajian masukan kepada Presiden terkait dengan pembinaan ketahanan nasional, mencakup Tri Gatra dan Panca Gatra.

Tri Gatra adalah 3 aspek kehidupan alamiah yang cenderung tidak berubah, yaitu gatra letak dan kedudukan geografi, keadaan dan kekayaan alam, serta keadaan dan kemampuan penduduk. Sedangkan Panca Gatra adalah 5 aspek gatra kehidupan sosial yang cenderung berubah dinamis, yaitu gatra ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya serta pertahanan dan keamanan.

Salah satu hal yang ingin digali Tim ini adalah mencari data masalah ketahanan energi, bisa dari Sumber Daya Alam Mineral ataupun Sumber Daya Alam Nabati. “Disini kelihatannya Bangka Belitung ini lengkap, jadi disini ada tambang dan disini juga ada kelapa sawit, nah inilah yang kita akan gali mungkin ada permasalahan-permasalahan yang mempunyai pola penyelesaian yang kita bisa angkat ke tingkat nasional”, jelas Tjetjep.

Selain itu mereka juga akan menggali terkait 9 Nawacita, dari mulai keadilan negara ditengah-tengah masyarakat sampai bagaimana membangun dari pedesaan.

“Seperti yang kemarin di Belitung saya juga tanyakan, kebetulan kami bertemu kepala desa bagaimana dia memanfaatkan dana desa nantinya kan tentunya yang di 2017 berbeda dengan 2016 dan 2018 nanti kita juga sudah harus mempersiapkan”, tambahnya.

Menurut Tjetjep, kita jangan lagi mempermasalahkan hal yang ada, tapi bagaimana kita membangun daerah ini, agar yang tadinya kendala menjadi peluang, ia memberi contoh bahwa disini ada danau kaolin, sebagian ada  jadi objek wisata ada yang sebagian lagi dijadikan sumber air.

“Jadi, bagaimana pemda disini melakukan perubahan yang mendasar dari biasanya masyarakat itu menggali timah, menjadi bagaimana memanfaatkan Bangka Belitung ini menjadi destinasi pariwisata, mungkin dari rekan-rekan SKPD baik itu dari pertanian, pertambangan maupun pariwisata mungkin punya program-program untuk menghadapi perubahan yang terjadi di Bangka Belitung”, pungkasnya.

Menanggapi hal tersebut, Sekda Babel Yan Megawandi menjelaskan bahwa sejak 300 tahun Babel sudah ditambang timahnya, setelah otonomi daerah baru rakyat bisa menikmati dan bisa ikut serta didalam kegiatanpenambangan tersebut. Tetapi setelah keluar Permendag yang membebaskan Timah sebagai barang strategis, lalu timah itu sudah bisa dikelola dan ditambang oleh masyarakat dengan persyaratan tertentu.

Terkait penambangan timah tanpa izin, Yan menjelaskan bahwa telah diperintahkan oleh Menkopulhukkam untuk membentuk Tim Terpadu Penambangan Timah Tanpa Izin yang sudah dibentuk dengan SK Gubernur Babel tanggal 16 Agustus lalu, yang terdiri atas 5 satgas.

Pertama Satgas yang mengkaji tentang regulasi terkait penambangan timah, kedua Satgas Lingkungan Hidup untuk bagaimana mengembalikan kondisi dalam bentuk reklamasi, reboisasi dan pengembalian lahan tidak hanya didarat maupun dilaut, ketiga Satgas untuk mengawal tata ruang terutama dalam persiapan RZ BP3 Zonasi tata ruang laut yang menjadi dasar pengelolaan kawasan 0-12 mil laut, keempat Satgas yang mempelajari bagaimana potensi tambang secara ekonomi selain bermanfaat secara bisnis tuk kalangan swasta, penerimaan negara dan terutama kesejahteraan masyarakat, dan yang kelima Satgas Penegakan Hukum yang dipimpin oleh Polda Babel untuk menegakkan hukum dan memberikan pemahaman bagaimana aturan terkait penambangan di Babel.

“Nah lima Satgas ini, Pak sudah bekerja, kami setiap bulan menyampaikan laporan kepada Menkopolhukkam Cq.Deputi V, dan ini adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Satgas dibidang Penegakan Hukum, jadi mereka melakukan sosialisasi kemudian melakukan penindakan dan yang terakhir itu mengumpulkan semua pemilik alat berat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini untuk diberikan arahan oleh Pak Kapolda dan membuat pernyataan bahwa mereka tidak akan menggunakan alat berat itu dalam bentuk apapun di kawasan-kawasan hutan”, jelasnya.

Lebih lanjut, Yan menyampaikan bahwa Provinsi Bangka Belitung dikenal hanya potensi penambangan timah saja, tapi sebenarnya Babel juga produsen untuk Kaolin di Pulau Belitung dan Pasir Kuarsa di Pulau Bangka, selain itu juga sebenarnya ada kurang lebih 17 mineral ikutan dari timah, yang nilainya bahkan melebihi nilai timah itu sendiri dan cadangannya cukup banyak, diantaranya hematit, elminit, Thorium, Uranium, dan yang jadi pusat perhatian yaitu mineral tanah jarang (rare earth) yang sangat dibutuhkan dalam industri elektronika.

Sehubungan dengan hal itu, Kepala Dinas Pertambangan Babel Suranto menyampaikan bahwa di Muntok sudah ada pilot project yang keluarannya adalah sulfida-sulfida yang hasilnya adalah RE Oxide dari Elminite, Zircon dan Monazite yang ada di Muntok.

"Tapi ini baru pilot project pak, jadi skalanya baru pilot project bukan skala produksi, cuman dari  PT.Timah telah membuat acuan semacam skema rencana produksi logam tanah jarang dan potensi ekonominya Pak, yang dilaksanakan disana adalah sumber logam tanah jarangnya zircon, volume biji yang tersedia saat ini PT.Timah memiliki 625.482 ton, elminite 1 juta ton, monazite 750.000 ton", jelas Suranto.

Direncanakan, setelah pertemuan tersebut Tim WANTANNAS selanjutnya akan melanjutkan kunjungan ke PT.Venus Inti Perkasa di Kawasan Ketapang Pangkalpinang dan PT Pulo Mas Sentosa di Muara Kolanm Pelabuhan PPN Sungailiat. Serta keesokan harinya akan berkunjung ke sejumlah lokasi, diantaranya ke perusahaan Sawit PT.Gunung Maras Lestari.

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Noviansyah
Fotografer: 
Noviansyah
Editor: 
Ahmad Fauzan Syahzian