DP3ACSKB Babel Selenggarakan Advokasi Penguatan Ketahanan Keluarga

Pangkalpinang - Persoalan yang terjadi di Provinsi Bangka Belitung terkait dengan perkawinan anak cenderung tinggi. Kepala DP3ACSKB Provinsi Bangka Belitung Susanti saat membuka acara Advokasi Penguatan Ketahanan Keluarga di Hotel Puncak, Pangkalpinang, Senin (30/7/2018) mengatakan saat ini Babel peringkat ke-4 angka perkawinan anak tertinggi di indonesia. Pada tahun 2016 terdapat sebanyak 689 kasus dan pada tahun 2017 sebanyak 648 kasus perkawinan anak di Babel.

Terjadinya perkawinan anak usia dini menurut Susanti akan banyak berdampak negatif terhadap kehidupan rumah tangga. Secara psikologis, Ia menjelaskan, anak belum siap menjadi orangtua karena masih anak-anak, hal ini menyebabkan rentan terjadinya pertengkaran dan kekerasan dalam rumah tangga hingga terjadinya perceraian. Dari sisi pendidikan, lanjutnya, akan ada banyak anak yang putus sekolah sehingga mempengaruhi kualitas sumber daya manusia.

"Banyak dampak buruk yang akan didapatkan anak dari perkawinan usia dini. Angka kemiskinan juga semakin tinggi karena anak tidak memiliki sumber daya ekonomi dan akses yang memadai. Dampak buruk ini juga nantinya akan dialami oleh anak-anak mereka dan terus berlanjut pada generasi yang akan datang, " ungkapnya.

Untuk itu, Susanti berharap melalui kegiatan ini peran pemerintah provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, kelurahan dan desa sangat berpengaruh dalam upaya mengatasi dan meminimalisir terjadinya permasalahan perkawinan anak usia dini. 

Ia menambahkan, tahap awal yang harus dilakukan dalam mengatasi masalah ini dapat dilakukan oleh pegawai pencatat pernikahan dengan menasehati, memotivasi orangtua untuk tidak memberikan izin kepada anaknya yang akan melakukan pernikahan dini, serta memperketat pemberlakuan peraturan dan Undang-undang tentang perkawinan.

Selain itu, menurut Susanti kapasitas orangtua dalam pengasuhan juga harus ditingkatkan, gerakan wajib belajar dan pendidikan seks harus masuk dalam kurikulum sekolah.

" Kita harus optimalkan upaya peningkatan kesejahteraan ekonomi keluarga sehingga resiko perkawinan anak akibat kemiskinan dapat diminimalisir. Harus ada upaya perlindungan anak dari pergaulan yang salah " imbuhnya.

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Suci Lestari (Pratana Humas Diskominfo Babel)