Ekspor Nontimah Berkurang Sebesar 31,01 Persen

Pangkalpinang – Oktober lalu nilai ekspor Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 2016 mencapai US$123,64 juta. Namun jumlah ini mengalami penurunan hingga 25,84 persen dibanding nilai ekspor bulan September 2016 menembus US$166,74 juta. Ini disebabkan penurunan ekspor nontimah sebesar 31,01 persen menjadi US$105,13 juta.

Sebaliknya, kata Darwis Sitorus Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, untuk ekspor nontimah mengalami peningkatan sebesar 28,92 persen dari US$14,36 juta menjadi US$18,52juta. Timah merupakan ekspor terbesar, berkontribusi 85,24 persen dari total ekspor Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

“Tujuan utama ekspor timah Januari Oktober 2016 yakni Singapura. Timah yang diekspor ke Singapura mencapai US$386,22 juta atau 50,59 persen dari keseluruhan ekspor timah,” kata Darwis saat jumpa pers di Kantor BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (1/12/2016).

Selanjutnya, jelas Darwis, diikuti Belanda US$89,16 juta atau 11,68 persen, India US$70.07 juta atau 9,18 persen, Taiwan US$55,37 juta atau 7,25 persen dan Jepang sebesar US$51,84 juta atau 6,79 persen. Mengenai komoditi utama penyumbang ekspor nontimah terbesar golongan minyak atau lemak hewani dan nabati.

Lebih juah Darwis merinci, komoditi utama penyumbang ekspor nontimah terbesar Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada bulan Januari hingga Oktober 2016 berdasarkan kode Harmonized System(HS) dua digit adalah golongan minyak atau lemak hewani dan nabati. Nilai ekspor komoditi ini sebesar US$84,47 juta atau berperan 63,90 persen terhadap total ekspor nontimah.

Selanjutnya diikuti golongan kopi, teh dan rempah-rempah US$32,25 juta atau 24,20 persen, ikan dan udang US$4,75 juta atau 3,59 persen, karet dan barang-barang dari karet US$4,62 juta atau 3,50 persen. Komoditi terakhir adalah berbagai produk kimia US$3,69 juta atau 2,79 persen dari jumlah ekspor.

Ekspor nontimah selama bulan Oktober 2016 ke Tiongkok mencapai US$6,29 juta dengan komoditi ekspor terbesar crude palm oil. Menurut Darwis, posisi kedua ditempati Singapura yang mencapai nilai US$5,93 juta, dan Belanda US$3,07 juta dengan komoditi ekspor terbesar yang sama.

“Kemudian diikuti Jepang US$0,37 juta dengan komoditas lada putih dan Malaysia US$0,26 juta dengan komoditas terbesarnya ikan dan udang. Bulan Oktober 2016, tidak ada ekspor ke negara Pakistan dan Korea Selatan,” ungkapnya. 

Sumber: 
Diskominfo Babel
Penulis: 
Rizky Fitrajaya/Huzari
Fotografer: 
Rizky Fitrajaya
Editor: 
Huzari | Adi Tri Saputra