Ekspor Perikanan Babel Cenderung Meningkat

Pangkalpinang – Kepala Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Kementerian Kelautan dan Perikanan Dr. Ir. Rina M.Si menyampaikan beberapa hal dalam meningkatkan ekspor perikanan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada saat simposium di Gedung Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas I Pangkalpinang, Senin (28/08/2017).

Rina mengungkapkan bahwa kehidupan nelayan di Indonesia menanjak naik yang dapat dilihat ari nilai tukar nelayan. “Perikanan menyumbang deflasi pada tahun lalu. Hal ini bisa terjadi karena kita menerapkan kebijakan yang sangat ketat  yaitu tidak mengizinkan kapal asing untuk mengambil ikan di perairan Indonesia dan juga pulihnya ekosistem di Indonesia,” jelas Rina.

Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Kementerian Kelautan dan Perikanan mendapat tugas dari Menteri Puji Astuti untuk menjaga kedaulatan budi daya ikan di Republik Indonesia. “Kita menjaga dari masuknya ikan yang tidak kita inginkan dan dari keluarnya ikan yang tidak sesuai dengan yang kita tentukan standarnya,” tutur Rina.

Selain itu Rina juga mengatakan bahwa Indonesia telah menggagalkan penyelundupan 36 ton ikan olahan dan ikan segar dari Malaysia. “Kalau ini masuk ke Indonesia, dapat mengganggu harga. Kita juga tidak bisa menjamin mutunya, apakah ikan-ikan itu di handle dengan baik,” ungkapnya.

Karantina perikanan juga bertindak dalam hal pengendalian mutu. Bila produk ikan ini keluar dari Indonesia, dan ditolak di negara mitra maka nama Indonesia akan menjadi tidak baik.

Untuk Bangka Belitung, hasil perikanan yang diekspor terjadi kecenderungan yang meningkat. Hal ini merupakan peluang yang baik untuk Babel .“Kalau kita melihat hasil perikanan Babel yang diekspor terlihat meningkat dari 2015 ke 2016, yaitu naik dua kali lipat. Sampai tahun 2017 per Agustus sudah 80% dari tahun lalu. Kita masih punya sisa 4 (empat) bulan di tahun 20127 dan kemungkinan akan terus meningkat. Ini potensi yang bisa kita gali terus supaya meningkatkan ekspor provinsi Babel,” ujar Rina

Lebih jauh Rian mengungkapkan bahwa dalam mengguncang ekonomi tidak semata-mata dari masalah jual beli, tetapi Bioterorism juga patut diwaspadai. “Untuk udang, di Asia Tenggara sudah terjangkit dengan penyakit EMS (Early Mortality Syndrome) yang berdampak kepada jumlah produksi panen udang. Tapi hanya Indonesia saja yang tidak terkena EMS ini. Kita jaga betul di setiap tempat di Indonesia,” terang Rina.

Ia pun menyebutkan beberapa waktu yang lalu benih-benih udang yang masuk dari negara Malaysia yang ditemukan tanpa surat, dibakar. “Karena kalau udang tersebut sudah masuk dari Malaysia, Vietnam, Thailand pasti sudah terkena penyakit tersebut. Kalau benih itu masuk, maka Indonesia juga bisa kena,” lanjutnya.

Maka Rina mengharapkan kerjasama dengan berbagai pihak terkait dengan kegiatan budidaya harus sama-sama mengerti tentang hal tersebut.(K5)

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
khalimo
Fotografer: 
Khalimo