Gubernur Mengagumi Festival Wisata Budaya Tujuh Likur Desa Mancung

KELAPA, BANGKA BARAT – Erzaldi Rosman Gubernur Kepulauan Bangka Belitung mengagumi Festival Wisata Budaya Tujuh Likur di Desa Mancung Kecamatan Kelapa Kabupaten Bangka Barat. Pasalnya festival seperti ini hanya ada di Desa Mancung. Namun untuk kedepan diharapkan sejumlah desa di sekitar Mancung dapat ikut meramaikan kegiatan festival tersebut.

Tujuh likur salah satu tradisi masyarakat mengungkapkan rasa syukur di bulan Ramadan. Setiap rumah membakar tujuh likur (lampu pelita berbahan bakar minyak tanah), lalu diletakkan di depan rumah. Namun saat festival digelar, tak hanya tujuh api likur dinyalakan. Sebab masyarakat membuat gapura yang dipenuhi susunan api likur sehingga membentuk suatu keindahan.

“Masyarakat desa masih menjaga adat ini dan suatu saat kegiatan tujuh api likur ini akan menjadi ketertarikan tersendiri bagi masyarakat. Budaya ini dapat dipersiapkan sehingga menasional,” harap Gubernur usai menyaksikan tujuh gapura api likur di sepanjang Desa Mancung, Kecamatan Kelapa, Kabupaten Bangka Barat, Rabu (21/6/2017).

Festival selanjutnya, kata Gubernur, Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata akan membantu menata kegiatan ini. Tahun depan harus ada kegiatan tambahan seperti, lomba hafiz Alquran dan lomba nasyid tingkat provinsi. Kegiatan bisa dimulai saat 25 hari puasa dan puncaknya 27 likur. Agar selain hiburan, juga berisi dengan kegiatan ibadah.

Menurut Gubernur, tahun depan Pemerintah Provinsi membantu Rp.150 juta untuk pelaksanaan kegiatan ini. Dana hibah itu diberikan kepada yayasan yang mengelola kegiatan, sehingga dapat membantu masyarakat. Namun gapura api likur ditambah. Jika tahun ini ada enam gapura, tahun depan harus menjadi 12 gapura api likur.

“Tahun ini satu RT membuat satu gerbang api likur, namun tahun depan satu RT membuat dua gerbang api likur. Hadiahnya Rp20 juta diambil dari dana bantuan Rp150 juta tersebut. Kalau saya datang nanti, kegiatan yang saya sebutkan tadi ada, hadiahnya ada dan gerbang bertambah. Pengerjaan satu gerbang oleh laki-laki dan satu lagi oleh perempuan,” saran Gubernur.

Sementara Kades Mancung Karman menjelaskan, kegiatan ini telah dilakukan sejak dulu. Namun dulunya masyarakat belum membuat gapura dan hanya menyalakan api likur di depan rumah. Pembangunan gapura mulai dilaksanakan sekitar sepuluh tahun lalu. Terdapat sebanyak enam RT di Desa Mancung, masing-masing RT membuat satu gerbang.

“Festival ini merupakan ungkapan rasa syukur sebab telah bertemu lagi dengan bulan Ramadan. Orang tua dahulu mengatakan, tujuh likur merupakan saat turunnya lailatul qadar. Kita berharap pemerintah provinsi maupun kabupaten lebih memperhatikan kegiatan ini, karena melestarikan budaya merupakan bagian peran pemerintah,” ungkapnya.

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Rizky/Huzari
Fotografer: 
Rizky