IMT GT Uninet Miliki Program Mobility Student Untuk Pertukaran Pelajar

Pangkalpinang – Dr. Muzain Afan dari Universitas Syiah Kuala Aceh yang mewakili Chairman IMT GT University Network (IMT-GT Uninet) bersama-sama dengan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika dan Kepala Biro Humas dan Protokol Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menggelar konferensi pers di Media Center IMT GT 2017 di Novotel, Rabu (27/09/2017).

Dalam konferensi tersebut, Muzain menjelaskan tentang sektor pendidikan yang mengangkat rencana pertukaran pelajar/mahasiswa dengan nama program Mobility Student. Program tersebut terdiri atas summer program, internship (magang), serta transfer credit. Mengenai rencana pertukaran mahasiswa akan dimulai apabila telah ditandatangi Memorandum of Understanding (MoU). Dengan adanya MoU tersebut, masing-masing pihak akan menyediakan biaya pendidikan, asrama, dan transport lokal gratis.

“Misalnya Universitas Bangka Belitung hendak melakukan pertukaran mahasiswa dengan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), biaya tiket akan ditanggung oleh universitas, saat mendarat pun akan dijemput oleh pihak UKM, kemudian asrama dan uang kuliah gratis. Yang menjadi tanggungan mahasiswa tersebut hanya biaya hidup sehari-hari,” jelas Muzain.

Muzain menerangkan biaya hidup di tiga negara IMT GT hampir sama dan tidak begitu terasa perbedaannya. Hal ini akan terasa jauh berbeda apabila dilaksanakan pertukaran pelajar ke negara seperti Jepang yang biaya hidupnya sangat tinggi.

Selanjutnya, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Suharto, mewakili Pemerintah Daerah menyampaikan bahwa daerah sangat mendukung kegiatan penelitian yang dilakukan oleh dunia pendidikan yang tergabung dalam IMT GT Uninet. Dan salah satu bentuk penelitian yang diperlukan oleh daerah adalah sektor pertanian. Menurut Suharto, penelitian sektor pertanian diharapkan dapat membantu para petani dalam meningkatkan hasil produksi dan kemajuan pertanian di daerah.

“Dr. Muzair telah memberikan penjelasan bagaimana Thailand melakukan penelitian dalam mengembangkan perkebunan kurma. Disana kontur tanah Thailand sangat berbeda dengan negara Timur Tengah sebagai penghasil utama kurma,” ungkap Suharto.

Selain itu, Suharto juga menyinggung tentang penelitian untuk para petani lada di Bangka Belitung. “Pentingnya penelitian terhadap tanaman lada juga untuk membantu para petani lada agar panen mereka tidak gagal, karena sering kali para petani lada harus menghadapi masalah penyakit kuning yang menyerang pohon lada. Diharapkan dengan hasil penelitian tersebut para petani dapat mendapatkan efek positif, yaitu dapat meningkatkan produksi dan memiliki kualitas lada yang lebih baik,” tutup Suharto.

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Khalimo/Stevani
Fotografer: 
Khalimo