Indonesia Memerlukan Orang Berani Mengambil Sikap

Pangkalpinang – Penjajah datang silih berganti memperebutkan kekayaan milik bangsa ini. Namun kekayaan itu tidak membuat sebagian orang sadar Indonesia bangsa kaya. Untuk itu perlu sikap berani memproklamirkan diri sebagai Indonesia. Saat ini Indonesia masih memerlukan orang-orang berani mengambil sikap.

Demikian ditegaskan Plt Gubernur Yuswandi A. Temenggung saat Apel Nusantara Bersatu di Halaman Kantor Gubernur, Rabu (30/11/2016). Ribuan masyarakat Bangka Belitung dari berbagai elemen hadir mengikuti apel yang digelar secara serentak di seluruh Indonesia ini.

“Indonesia masih memerlukan orang-orang berani berbeda dari kebanyakan orang. Tujuan apel Nusantara Bersatu memperkokoh rasa persatuan dan kesatuan bangsa. Persatuan dan kesatuan adalah tujuan, keberadaannya adalah gerbang tanggung jawab yang harus dituntaskan,” kata Yuswandi.

Kolonel Inf Tjatur Putra Gunaidi Genah Danrem 045 Garuda Jaya menegaskan, Indonesia akan tetap ada dan TNI setia menjaga keutuhan NKRI. Isu SARA dan narkoba harus mampu dilawan, sebab di setiap jiwa dalam tubuh memiliki rasa patriotisme tinggi. Rasa itu telah mengalir secara genetis dari pahlawan terdahulu.

Indonesia membutuhkan waktu sekitar 17 tahun meraih kemerdekaan. Ia menjelaskan, kemerdekaan diraih tanpa bantuan bangsa manapun. Saat itu bangsa Indonesia sendiri berjuang untuk kemerdekaan bangsa. Semua suku memiliki keahlian berperang, artinya semua warga Indonesia memiliki rasa patriot terhadap bangsa.

Ingat tulisan Bhinneka Tunggal Ika semboyan NKRI dicengkeraman Garuda lambang negara. Tulisan itu mengandung arti, ”Walaupun Berbeda Beda, Tetapi Tetap Satu“. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika sangat menggambarkan keberagaman suku, bangsa, ras dan agama di Indonesia.

“Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tidak ada tanpa bangsa Indonesia. Indonesia tidak akan ada tanpa agama Kristen, Islam, Katolik, Hindu, Budha dan Kong Hu Cu. Untuk itu jangan sampai kita terprovokasi dan terpecah belah. Indonesia harus selalu jaya,” tegasnya.

Sementara Brigjen Anton Wahono Kapolda Bangka Belitung mengatakan, saat ini kondisi bangsa Indonesia mengalami lupa jati diri bangsa, lupa bangsa Indonesia. Sehingga perkembangan teknologi mampu merusak bangsa Indonesia.

"Kemajuan teknologi seperti media sosial tidak bisa dibendung. Situasi di suatu negara dapat dilihat negara lain melalui media sosial," kata Anton.

Sumber: 
Diskominfo Babel
Penulis: 
Evani
Fotografer: 
Nona Dian Pratiwi
Editor: 
Huzari | Adi Tri Saputra