Ini Akibat Memotong Betina Produktif

PANGKALPINANG--Pemerintah melarang pemotongan sapi atau kerbau betina yang masih produktif. Langkah itu untuk menyelamatkan betina produktif dari pemotongan serta upaya untuk mempertahankan dan meningkatkan jumlah akseptor.

"Jika sapi betina usia produktif dipotong maka plasma nutfah Indonesia atau keberlangsungan sapi dan kerbau lokal akan punah. Jika sudah punah kita tidak tahu lagi seperti apa sapi bali dan seperti apa sapi madura yang merupakan sapi lokal. Larangan ini juga dalam rangka mewujudkan swasembada pangan," ungkap Direktur  Kesehatan Masyarakat Veteriner, Kementerian Pertanian, drh. Syamsul Ma'arif, M.Si, pada kegiatan Sosialisasi Pengendalian Pemotongan Betina Produktif yang dilaksanakan Dinas Pertanian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Selasa (10/4/2018) di Hotel Bangka City Pangkalpinang.

Dikatakan Ma'arif, pemotongan betina produktif di Indonesia masih tinggi  dalam 4 tahun terakhir dengan jumlah diatas 22 ribu ekor per tahun. Untuk itu  pihaknya terus berupa untuk menurunkan pemotongan betina produktif sebesar 20% dari jumlah pemotongan betina produktif nasional. Langkah yang dilakukan dengan melakukan sosialisasi di pusat dan di 34 provinsi dengan melibatkan stakeholders, Pemda, manajemen rumah pemotongan hewan (RPH),
Kepolisian, pelaku usaha, dan masyarakat.

Menurut Ma'arif, akan ada sanksi bagi pihak yang dengan sengaja memotong betina produktif, yang itu sesuai dengan UU No. 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Bagi yang menyembelih ternak ruminansia kecil betina produktif dipidana kurungan    paling singkat satu bulan dan paling lama  enam bulan dan denda paling     sedikit   Rp 1.000.000 dan   paling   banyak  Rp 5.000.000. Sedangkan untuk ternak ruminansia besar betina produktif  pidana penjara paling singkat satu tahun dan paling lama tiga tahun dan atau denda paling sedikit Rp 100.000.000 dan paling banyak Rp 300.000.000.

"Namun bisa juga dipotong untuk dikecualikan dalam hal penelitian, pemuliaan, pengendalian dan penanggulangan penyakit hewan, ketentuan agama, ketentuan adat istiadat, dan pengakhiran penderitaan hewan," paparnya.

Dia menambahkan, pihaknya juga melakukan pengawasan terhadap pemotongan betina produktif ini. Pengawasan bekerja sama dengan  Baharkam Polri dan pihak lainnya.

"Kita juga terus mendorong agar pihak dinas pertanian atau peternakan provinsi, kabupaten/kota  untuk terus berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk memaksimalkan upaya pengawasan dalam rangka pengendalian pemotongan betina produktif," katanya.
Sosialisasi Pengendalian Pemotongan Betina Produktif ini juga menghadirkan narasumber dari Baharkam Polri, Kombes Gatot Tri Suryanta MSi.

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Mamaq D
Fotografer: 
Mamaq
Editor: 
Mamaq