Jelang Pilkada, Seminar Kebangsaan Mengenai Ujaran Kebencian Digelar

PANGKALPINANG--Menjelang pilkada serentak yang melibatkan 171 daerah di seluruh Indonesia, Kepolisian Negara Republik Indonesia mengeluarkan Surat Edaran  Kapolri SE/6/X/2015 mengenai penanganan Ujaran Kebencian, dimana hal ini dilatar belakangi oleh kejadian beberapa kasus di Tanah Air seperti pembakaran masjid di Tolikara Papua, perusakan gereja di Singkil Aceh,   kekerasan anti Syiah di Sampang Madura, dan sejumlah kasus lainya yang melibatkan isu SARA.

Menurut  Karosunluhkum Divkum Polri, Brigjen  Agung Makbul ujaran kebencian atau biasa disebut hate speech merupakan tindakan yang sering dilakukan sebagian kelompok di masyarakat untuk memprovokasi kebencian dan tindakan kekerasan pada kelompok lain.

Sementara yang melatarbelakangi tindakan itu karena keinginan yang tidak terpenuhi serta adanya perbedaan paham suatu kelompok secara vulgar menghujat kelompok atau individu lain yang bisa berujung pada tindak kejahatan bahkan jika dibiarkan bisa memicu konflik sosial.

"Kepolisian dituntut peka siaga dalam mencegah dan mengatasinya, penanganan hate speech belum secara khusus diatur dalam KUHP. Penggunaan pasal ini masih mengundang pedebatan," ungkap Agung saat menjadi narasumber dalam seminar kebangsaan menjaga persatuan kesatuan bangsa dan idiologi Pancasila dengan pencegahan ujaran kebencian  di Gedung Serumpun Sebalai pada Rabu (14/2).

Lebih lanjut ia berharap, seminar ini dapat mempersatukan NKRI sesuai dengan sila ke-3 Pancasila yakni Persatuan Indonesia.

Menanggapi tentang seminar ini, Sekda Provinsi  Babel, Yan Megawandi menjelaskan bahwa ujaran kebencian bisa dilakukan secara lisan dan tulisan.

Jika dilihat dari psikologi komunikasi maka kemampuan berbahasa itu, setidaknya kita peroleh secara teori  ada empat tahapan kemampuan dalam belajar berbahasa,  yakni mendengar, meniru, membaca dan keempat menulis.

"Rangkaian keempat kemampuan dalam bahasa ini kalau ada yang terganggu cara memperolehnya maka kita akan melihat orang yang menyampaikan baik lisan maupun tulisan juga terganggu dalam konteks urutan-urutan tadi." Ungkap Yan

Lebih lanjut Yan memaparkan bahwa ada sebuah penelitian di Prancis yakni pada abad 20 seorang dokter otak menyatakan ada kemungkinan kerusakan di dalam otak jika ada orang yang senang mengumbar kebencian, mengumbar konflik. 

Melihat ada kemungkinan kerusakan otak  yakni kehilangan sebagian atau seluruh kemampuan dalam berbahasa jadi terganggulah cara berbahasanya.
Kerusakan otak ini terbagi menjadi dua yakni  ada orang yang seolah-olah menguasai kosakata, tetapi lemah dalam menyusunnya dalam koridor ini yang biasa disebut tata bahasa,  dan ada yang sebaliknya orang yang mampu bertata bahasa tetapi tidak punya kosakata.  Kemampuan berbahasa linier dengan kemampuan otak manusia.

"Kalau orang itu bisa bertutur kata yang bagus dan memiliki wawasan yang luas dapat dipastikan orang itu mempunyai kemampuan struktur kata, analisis yang kemampuan otak yang cukup bagus.  Begitupun  sebaliknya jika setiap hari cuma ngoceh menyampaikan hal-hal kebencian,konflik dan provokasi ini ada persoalan dalam dirinya," tukas Yan.

 

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Evani
Fotografer: 
Evani
Editor: 
Irwanto