Keharmonisan Komunikasi Penentu Dinamika Percaturan Politik

Adi Tri Saputra – Pranata Humas Diskominfo Babel

MEMASUKI peradaban kecanggihan teknologi tentunya tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan teknologi menjadi salah satu indikator kuat pencaturan dinamika perpolitikan saat ini. Indonesia dengan jumlah penduduk saat ini sekitar 260 juta jiwa, kini sedang dilanda dinamika politik yang kian meruncing. Kemajuan teknologi digital kini telah menjadi candu bagi para aktor politik.

Pemilihan serentak kepala daerah tahun ini akan dilaksanakan di 171 daerah. Terdapat 17 provinsi, 39 kota dan 115 kabupaten akan menggelar pilkada 27 Juni mendatang. Selanjutnya di tahun 2019, kembali Republik ini melaksanakan pileg dan pilpres.

Tentunya, dinamika perpolitikan yang terjadi akan banyak berdampak pada berbagai komunikasi dan informasi yang berbau ajakan, mempengaruhi, tak ketinggalan berbagai informasi serta isu negatif pun berkembang sangat pesat. Sehingga dapat mempengaruhi situasi iklim pemerintahan, perekonomian serta investasi di suatu daerah maupun negara.

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung juga mengalami gejolak perpolitikan, dimana provinsi ini akan melakukan pemilihan kepala daerah yakni pemilihan wali kota/wakil wali kota, dan dua kabupaten di Babel juga akan melaksanakan pemilihan kepala daerah. Dua kabupaten tersebut yakni, Kabupaten Bangka dan Kabupaten Belitung.

Sedangkan Kabupaten Bangka Tengah sedang menentukan calon wakil bupati yang saat ini masih kosong. Provinsi Babel mengalami gejolak perpolitikan dan sangat disayangkan jika perpolitikan menjadi momok menakutkan bagi sebagian masyarakat, sebab merasa bimbang akan nasib daerahdi masa mendatang.

Ini menjadi tantangan para aktor komunikasi politik dalam berperan aktif menyelami perkembangan isu yang ada. Peran aktor berkomunikasi politik tentunya tak lepas dari besarnya pengaruh lingkungan di sekililingnya. Berawal dari pemetaan titik massa pro dan kontra, peralatan serta media dalam menyukseskan penyampaian pesan politik.

Masyarakat saat ini menjadi saksi akan peran penting para aktor politik demi mewujudkan misi dan visi yang ditawarkan. Jika kita pahami, politik merupakan cara untuk mencapai sesuatu sesuai dengan yang diinginkan/wujudkan. Tentunya, dalam politik tak lepas dari pentingnya peran komunikasi yang baik. Dimana komunikasi persuasif sangat berpengaruh kuat dalam politik, berbagai cara dilakukan untuk melakukan komunikasi persuasif secara massif.

Media massa menjadi salah satu sarana terbesar dalam penyampaian komunikasi secara massif. Peran media massa dituntut kerja keras menjadi garda terdepan penyampaian informasi kepada publik, informasi yang tidak memihak dan netral menjadi sangat penting bagi sebuah media massa. Jika merujuk pada Asas Kode Etik Jurnalistik.

Kode Etik Jurnalistik yang lahir pada 14 Maret 2006, oleh gabungan organisasi pers dan ditetapkan sebagai Kode Etik Jurnalistik baru yang berlaku secara nasional melalui keputusan Dewan Pers No 03/ SK-DP/ III/2006 tanggal 24 Maret 2006. Sedikitnya mengandung empat asas yaitu: 1. Asas Demokrasi, 2. Asas Profesionalitas, 3. Asas Moralitas dan 4. Asas Supremasi Hukum.

Jika ditelaah secara mendalam pers mempunyai peran penting dalam melaksanakan asas demokratis. Demokratis berarti berita harus disiarkan secara berimbang dan independen. Selain itu, pers wajib melayani hak jawab dan hak koreksi, dan pers harus mengutamakan kepentingan publik. Asas demokratis ini juga tercermin dari pasal 11 yang mengharuskan, wartawan Indonesia melayani hak jawab dan hak koreksi secara proposional.

Adanya hak jawab dan hak koreksi, pers tidak boleh mendzalimi pihak manapun. Semua pihak yang terlibat harus diberikan kesempatan untuk menyatakan pandangan dan pendapatnya, tentu secara proposional. Inilah saatnya komunikasi politik berperan kuat dalam percaturan perpolitikan saat ini.


Tentunya berbagai gejolak dan perkembangan isu saat ini menjadi tren para pelakon atau aktor politik dalam mencari berbagai celah untuk mendapatkan simpati pendukung. Keresahan masyarakat semakin tinggi dengan adanya percaturan politik yang terjadi, di sinilah peran pentingnya sebuah media massa/pers dalam menyajikan sebuah informasi kepada publik/khalayak.

Media massa yang bersifat independent dan netral menjadi dambaan masyarakat, penyajian informasi atau berita secara profesional merupakan point penting terhadap media massa tersebut. Perpolitikan boleh bergejolak, namun masyarakat jangan sampai terpengaruh akan gejolak perpolitikan yang terjadi, harus cerdas dalam mendapatkan informasi, tidak mudah terpengaruh dan selalu tenang dalam menyikapi setiap perkembangan informasi negatif.

Mari menjaga ketenteraman negeri meskipun perpolitikan bergejolak. Keharmonisan komunikasi menjadi obat paling mujarab dalam menjaga ketenteraman baik bagi eksekutif, legistatif maupun yudikatif. Semoga ketika memilih pemimpin nantinya sesuai harapan demi kesejahteraan bersama tanpa terjadinya keresahan mengatasnamakan kepentingan masyarakat. Semoga. (*)

Tulisan Ini Pernah di muat di Harian Babelpos pada tanggal 7 mei 2018

Penulis: 
Adi Tri Saputra Pranata Humas Diskominfo Pemprov Babel
Sumber: 
Diskominfo