Komparasi dengan Blitar, Dinkes Babel Yakin Kembangkan Toga Masyarakat

BLITAR –  Tim Yankestrad Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yakin dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengembangkan pemanfaatan toga dan akupresur. Bertolak ke Desa Genengan Asuhan Mandiri Bersemi ke Kabupaten Blitar Provinsi Jawa Timur, tim  menerima masukan dan saran yang dapat diimplementasikan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. (28/11/2019)

Kepala Seksi Mutu Pelayanan Kesehatan dan Pelayanan Kesehatan Tradisional – Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Yusrizal menjelaskan bahwa pengembangan toga dan akupresur di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sudah baik. “Hal ini dapat dilihat dari penghargaan yang sudah diraih. Pada tahun 2017, Kota Pangkalpinang mendapatkan peringkat III nasioanal dalam lomba Pemanfaatan Toga dan Akupresur Tahun 2018 Kategori  Kawasan Perkotaan. Untuk tahun 2018, Desa Pongok Kabupaten Bangka Selatan meraih peringkat III nasional untuk kategori Daerah Daerah Tertinggal, Perbatasan dan Kepulauan Terluar,” tuturnya.

Berdasarkan hal ini, lanjut Yusrizal, peluang berkembangnya pemanfaatan toga di Provinsi kepulauan Bangka Belitung sejatinya menjadi lebih besar lagi. “Pihak Kementerian Kesehatan Republik Indonesia merekomendasikan Kabupaten Blitar sebagai objek dalam studi komparasi kami mengingat kelompok asman (red. Asuhan Mandiri) merupakan langganan peringkat pertama terbaik tingkat nasional,” tambahnya.

“Banyak hal yang ingin kami gali, mulai dari pengelolaan kelompok asman hingga keberlanjutannya. Semoga kami dapat mengadopsi pola pembinaan yang dilakukan oleh dinas kesehatan dan bentuk dukungan yang diberikan kepada asman terkait sehingga nantinya dapat kami laksanakan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,” ujar Yusrizal.

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, Christine Indrawati menjelaskan bahwa pada tahun 2017,  Kelompok Turi Putih Desa Kebonagung mendapatkan peringkat satu terbaik nasional Pemanfaatan Toga dan Akupresur Tahun 2018 Kategori  Kawasan Pedesaan. Di tahun 2018, Blitar masih bertahan dengan kategori dan peringkat yang sama, tapi melalui Kelompok Bersemi Desa Genengan. 

“Salah satu keberuntungan kami adalah kepedulian masyarakat mengenai pemanfaatan toga ini sudah sangat tinggi. Ada lomba ataupun tidak ada lomba, pemanfaatan toga ini sudah berjalan sangat baik. Dengan adanya pembinaan dari dinas kesehatan, khususnya melalui puskesmas, pengelolaan menjadi lebih baik dan teratur, terutama dari segi administrasi,” jelasnya.

Untuk program kegiatan pelayanan kesehatan tradisonal, tambah Christine, kami berupaya untuk menciptakan inovasi yang dapat melibatkan kelompok asman. “Pada setiap Jumat, tersedia stand minuman toga (stamiga) di salah satu sudut kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, yang dapat dikonsumsi setiap pegawai dan tamu yang datang. Ditambah lagi dengan jumat Pekan pertama di alun-alun saat senam bersama yang diadakan Pemerintah Kabupaten Blitar. Minuman stamina ini terbuat dari racikan aneka toga dan merupakan produksi dari asman yang sudah ditentukan,” jelasnya.

Sementara Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Tradisional Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, Siwi Lestari menjelaskan bahwa secara nomenklatur seksi pelayanan kesehatan tradisional mulai terbentuk pada awal 2017. “Sebelumnya pelayanan kesehatan tradisional memang ada di bidang pelayanan kesehatan, tetapi bukan berada di seksi tersendiri,” lanjutnya.
“Untuk menggiatkan pelaksanaan toga di masyarakat, kami melakukan mulai dari sosialisasi ke setiap puskesmas. Kami mengupayakan keberadaan fasilitator di setiap puskesmas, mulai dari pelatihan yankestrad hingga evaluasinya. Selanjutnya, para fasilitator yang bergerak ke desa untuk pembentukan kelompok asman. Blitar memiliki 24 puskesmas di 22 kecamatan, yang terdiri atas 248 desa. Kami menargetkan setiap desa memiliki kelompok asman,” jelas Siwi.

Salah satu pengurus Asman Bersemi Desa Genengan, Ariagung,  menjelaskan bahwa peran tim PKK dalam mendukung pengelolaan asman sangat besar. “Kebun toga Bersemi sebenarnya merupakan pengelolaan kebun PKK, yang diserahterimakan kepada kelompok asman Bersemi. Dengan pembinaan dari fasilitator, pengelolaan kebun toga kami lebih terarah,” lanjutnya.

Dengan terpilihnya Asman Bersemi menjadi peringkat terbaik nasional, tambah Ari, kami berkeinginin untuk memperluas pengelolaan kami menjadi profesional. “Asman kami sudah memproduksi pangan yang dijual dan diakui secara internasional, salah satunya jantung pisang kepok yang dijadikan dendeng siap makan,” pungkasnya.

Sumber: 
Dinkes Babel
Penulis: 
Adinda Chandralela