KPI Bangka Belitung: Tontonlah Siaran Yang Bermanfaat

PANGKALPINANG – Mengawali kegiatan di tahun 2017, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Daerah Kepulauan Bangka Belitung melaksanakan Literasi Media dalam rangka meningkatkan pemahaman tentang tontonan yang bermanfaat.

Kegiatan tersebut diselenggarakan di depan puluhan pelajar SMP Muhammadiyah Pangkalpinang pada Kamis (12/1/2017). Di awal sambutan, Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Daerah Provinsi Bangka Belitung Rusdiar MAP, mengimbau agar para pelajar memilih dan memilah tontonan yang memiliki manfaat dari media televisi.

“Tidak semua acara yang ada di televisi itu baik ditonton oleh anak-anak, terutama bagi adik-adik yang masih duduk di bangku SMP. Seperti sinetron atau drama, tentunya punya pengaruh negatif terhadap pola fikir adik-adik. Adik-adik tidak boleh menonton itu karena tontonan itu diperuntukan untuk orang dewasa,” ungkap Rusdiar.

Sementara itu Kepala SMP Muhammadiyah Pangkalpinang Zulfikar, menyambut baik gagasan pihak KPI Daerah Babel yang menggelar acara Literasi Media di sekolah mereka.

“Tentunya ini merupakan hal yang baru, dan saya harap para siswa dapat mengambil manfaat dari acara ini. Setidaknya siswa mengerti mana tontonan yang baik dan layak. Saya minta siswa mendengarkan dengan serius apa yang disampaikan Komisioner KPID, kalau kurang paham segera bertanya agar lebih paham dan mengerti,” tutur Zulfikar.

Selanjutya, 3 (tiga) orang Komisioner KPID Bangka Belitung, yaitu Miranty Afrianingsih, Barliyanto dan Ruslan menyampaikan materi paparannya.

Miranty menyampaikan media televisi maupun radio memberikan dampak bagi pemirsanya baik dampak positif maupun negatif. Dengan adanya literasi media, para pelajar bisa memahami operasi media dengan benar, menyikapi media secara benar serta memihak pada isi media yang benar.

“Dampak positif diperoleh bila kita bisa memanfaatkan media dengan baik dan sebaliknya dampak negatif timbul bila kita yang terbawa arus media karena tidak bisa menyaring informasi yang disajikan media. Untuk itulah pentingnya literasi media,” terang Miranty.

Sementara itu, Barliyanto mengingatkan agar para pelajar menonton acara sesuai dengan penggolongan program siaran yang terdiri dari lima kelompok berdasarkan usia. Klasifikasi P untuk anak pra sekolah yang berusia 2-6 tahun. Klasifikasi A untuk anak-anak yang berumur 7-12 tahun. Klasifikasi R untuk remaja dengan usia 13-17 tahun. Klasifikasi D untuk dewasa dengan usia 18 tahun ke atas. Sedangkan SU untuk semua umur.

“Usia adik-adik rata-rata 13-17 tahun atau masuk klasifikasi R yakni remaja. Maka tidak boleh menonton acara yang berklasifikasi D atau dewasa. Biasanya di acara televisi sudah dicantumkan klasifikasi di sudut kanan atas, seperti R+BO artinya remaja dengan bimbingan orangtua atau D+BO artinya dewasa dengan bimbingan orangtua. Jadi tontonlah acara sesuai dengan usia adik-adik, sehingga dampak negatif bisa diminimalisir,” terang Barliyanto.

Barliyanto juga memberikan beberapa contoh film anak-anak yang bisa berdampak negatif terhadap sikap dan pola fikir anak. Bahkan ada film kartun yang seharusnya untuk orang dewasa malah ditonton anak-anak.

Pada kesempatan selanjutnya, Ruslan menyampaikan tugas dan wewenang KPI sekaligus memimpin sesi diskusi dan tanya jawab. Dalam sesi tersebut, tampak para anak didik sangat antusias mengikuti acara tersebut sekaligus menanyakan beberapa hal yang berkaitan dengan penyiaran.

“Saya harapkan apa yang telah didapat di acara ini juga ditularkan kepada teman-teman dan keluarga di rumah. Hendaknya adik-adik menjadi penonton yang cerdas dan mampu memilah acara yang baik untuk ditonton, jangan lagi menonton acara televisi yang kurang bermanfaat,” pungkas Ruslan.

Sumber: 
KPI Daerah Kepulauan Bangka Belitung
Penulis: 
Barliyanto
Fotografer: 
Barliyanto
Editor: 
Ahmad Fauzan Syahzian