Langkah Strategis Distanbunak Pasca Timah

Pangkalpinang – Dinas Pertanian  Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sudah menyusun langkah strategis dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat Bangka Belitung pasca timah.

Sunardi, Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menjelaskan saat Konferensi Pers bersama awak media di Media Center Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi kepulauan Bangka Belitung (30/9), bahwasanya salah satu program untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Bangka Belitung dengan meningkatkan produktifitas lahan 10.000 ha agar bisa dioptimalisasi 2 – 3 kali panen dalam satu tahun.  Untuk hasil panen pertama saat ini bisa digunakan untuk biaya masa tanam  kedua dan ketiga dalam setahun.

Pada 27 September kemarin hasil panen Padi di desa Rias Bangka Selatan mencapai  angka 6 - 7 ton.  Hasil ini merupakan peningkatan produksi yang signifikan. Keberhasilan ini merupakan kerjasama antara Pemerintah  Provinsi dengan Pemerintah Daerah setempat.

“ baru-baru kemarin baru saja panen padi di desa Rias Bangka Selatan sekitar 6 – 7 Ton, itu hasil dari optimalisasi lahan, hasil panennya yang pertama ini digunakan untuk biaya menanam yang kedua”, ungkapnya.

Sunardi menyadari, saat ini sebagian besar produk pertanian di Bangka Belitung diimpor dari luar daerah, bahan pangan seperti beras hanya 14% diproduksi sendiri, sedangkan 86% diimpor. Itu diartikan Bangka Belitung dikategorikan daerah rawan pangan dan perlu medapatkan perhatian khusus.

Untuk mengatasi hal tersebut perlu dilakukan peningkatan pangan, seperti perluasan area. Agar pada tahun 2017 produksi beras di Bangka Belitung bisa mencapai 40% dan perlu perluasan area sekitar 27 ha.

Pada tahun 2013 terjadi perluasan area sekitar 2000 ha melalui bantuan sosial. Setiap petani mendapatkan 10 Juta per orang. Sedangkan pada tahun 2014 diusulkan 4000 ha area sawah baru, ujarnya.

Ketersediaan bibit unggul menjadi pesrsoalan, dikarenakan saat ini Pemerintah Provinsi hanya memiliki 53.500 Kg bibit yang dibagikan ke kelompok-kelompok petani secara gratis. Selebihnya bantuan dari pemerintah pusat, jelas Sunardi. Untuk tahun 2014 pemerintah akan merencanakan anggaran dengan lahan 50 ha  tanaman 1ton sampai 2 ton utk dijadikan benih.

Menurut Sunardi pupuk bersubsidi akan menjadi perhatian serius dari pemerintah daerah. Memang disadari keterlambatan distribusi ke masyarakat seringkali terjadi dikarenakan persoalan teknis.

“kami selalu berusaha semaksimal mungkin untuk membantu masyarakat untuk memberikan bantuan bibit dan pupuk bersubsidi ke masyarakat tepat waktu, tapi keterlambatan sering terjadi karena persoalan dari pusat”, ungkapnya.

Berdasarkan laporan dari petani, serangan organisme seperti Keong emas, Walang Sangit, Hama Wereng, Burung dan Tikus  juga menjadi persoalan serius yang mengancam produksi Padi. Berbagai upaya sudah dilakukan dalam membasmi serangan organisme dengan menggunakan obat-obatan dan racun. Kehadiran satuan brigadir lapangan juga turut membantu petani di ladang, papar Sunardi.

Rencananya pasca panen, Pemerintah akan mengadakan alat penggilingan padi dan alat pengering gabah di beberapa tempat, peralatan tersebut diharapkan dapat mempermudah pekerjaan petani.

Selain itu dibuka juga sekolah lapak pertanian tanaman terpadu dimasing-masing daerah. Sekolah tersebut diperuntukkan kepada para petani. Petani diajak belajar bersama oleh tenaga teknis baik dari Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Pusat.

“kami berharap pengetahuan dan keahlian para petani semakin meningkat, agar hasil tanam mereka semakin baik dan berkualitas”, harap Sunardi.

Untuk sektor Hortikultura, Bangka Belitung masih mengandalkan keunggulan Durian. Varian dari Durian pun sangat banyak dengan kualitas yang tidak perlu diragukan lagi. Ada durian Namlung, Tai Babi, Putri DeWa, Tembaga, dan durian Sikambang.

“ saat kontes durian kemarin durian Si Kambang menjadi pemenang, sebelum menjadi pemenang harganya biasa saja, setelah memenangkan kontes harga satu bijinya bisa mencapai 300rb. Durian ini tidak ada biji dan terdapat di Jebus dan hanya satu pohon saja”, jelasnya.

Pada sektor perkebunan, Lada masih menjadi juara dan akan terus diupayakan digalakkan kembali. Dengan perbanyakan benih 2.500 juta stek bibit Lada, dan fokus untuk memperbaiki struktur tanah agar hasil Lada tersebut lebih berkualitas.

Pada 2014 mendatang melalui bantuan dana APBN akan dilakukan perluasan area, karena Lada akan menjadi sektor perkebunan andalan nasional, ujar Sunardi.

Disinggung juga prioritas unggulan One Village One Product (OVOP), masing-masing daerah akan memiliki unggulan ciri khasnya masing-masing. Misalnya Bangka Selatan dengan sentra pertanian Padinya, Bangka Barat dengan ciri khas Duriannya yang berkualitas, Kabupaten Bangka dengan Karet dan Ladanya, serta Kabupaten lainnya yang juga memiliki sektor unggulan, tutupnya. (sc/fa)

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Suci Lestari | Fajrina Andini
Fotografer: 
Suci Lestari
Editor: 
Fajrina