Mahasiswa AIESEC Pelajari Budaya Nganggung, Pernikahan dan Kerajinan Batu Satam Belitung

TANJUNGPANDAN – Setelah melakukan dialog tatap muka dengan Bupati Belitung Erwandi A Rani di ruang pertemuan kantor bupati belitung pada hari rabu (23/08/2017). Para mahasiswa AIESEC ini menuju rumah adat belitung untuk makan siang bersama dengan cara nganggung dan duduk bersimpuh dilantai.

Panitia pun menjelaskan mengenai tata cara nganggung yang dilakukan oleh masyarakat. Bahwa setiap satu tudung saji biasanya dimakan untuk berempat dengan duduk saling berhadapan. Dan yang termuda usianya akan melayani yang lebih tua dengan memberikan piring, mempersilahkan yang lebih tua untuk lebih dahulu mengambil nasi dan lauk pauknya.

Para mahasiswa AIESEC ini pun melakukan dengan baik seperti arahan panitia, karena mereka juga ingin mempelajari mengenai budaya setempat, selain mempelajari tentang kepariwisataan yang ada di Bangka Belitung.

Saat tim babelprov.go.id turut nganggung bersama, kami pun berbincang-bincang dengan salah seorang peserta dari Iran, Ahmad, apakah Ia menyukai hidangan tersebut. “Saya suka sekali makanan-makanan ini. karena di negara saya rasa makanannya cenderung manis dan asin, jadi saya merasa sangat cocok dengan hidangannya. Bahkan kue ini (bingke) pun saya sangat suka,” ujar ahmad.

Ia pun tampak antusias bertanya-tanya lebih jauh kepada panitia bahan-bahan kue tersebut. “Karena saya penasaran kue ini terbuat dari apa, rasanya enak sekali di lidah saya,” imbuhnya.

Setelah puas menyantap makan siang, panitia pun menjelaskan mengenai rumah adat belitung. rumah adat tersebut berbentuk panggung yang tidak ada kamar-kamar di dalamnya, hanya berupa sekat-sekat. Kemudian mengenai baju adat yang ditampilkan dirumah panggung tersebut merupakan baju pengantin. Dimana dalam adat belitung yang kebanyakan beragama muslim, biasanya sang calon pengantin wanita sebelum menikah disyaratkan untuk khatam membaca Al-qur’an, sedangkan calon pengantin pria disyaratkan untuk memiliki rumah.

Para mahasiswa asing ini merasa sangat takjub, mengingat membaca Al-qur’an dalam huruf arab bukanlah hal yang mudah. Salah seorang peserta pun ada yang menggumam bahwa ternyata perihal menikah bukanlah urusan yang simple seperti yang Ia bayangkan. Hingga akhirnya pun mereka saling berdiskusi mengenai hal tersebut.

Dari rumah adat, acara pun dilanjutkan dengan mengunjungi pengrajin batu satam. Mereka memperhatikan cara para pengrajin dalam membuat batu-batu satam tersebut menjadi perhiasan yang memiliki daya jual. Hal ini tidak dilewatkan oleh para mahasiswa AIESEC untuk membeli souvenir-souvenir tersebut, hingga akhirnya mereka pun tampak puas telah banyak membeli berbagai kerajinan unik untuk dibawa pulang.(K5)

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
khalimo
Fotografer: 
Khalimo