Manfaatkan Free Trade Agreements Untuk Tingkatkan Ekspor

Bangka Tengah - Kementerian Perdagangan Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Perdagangan Perundingan Internasional bekerja sama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bangka Belitung menggelar seminar yang bertajuk Edukasi Publik Pemanfaatan Free Trade Agreements (FTA) dalam rangka Peningkatan Ekspor, di Soll Marina Hotel, Kamis (27/9).

Hadir dalam acara ini 3 (tiga) orang narasumber dari Ditjen Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan yaitu Kasubdit Antar dan Sub Regional, Dina Kurniasari, SH., LLM , Tenaga Ahli Bidang Strategi dan Pemasaran, Aryoko Mochtar, serta Tenaga Ahli Bidang Akses Pembiayaan dan Prosedur Ekspor, Hindra Soeprajanto. Para Narasumber tersebut menyampaikan strategi yang akan memudahkan para eksportir yang berada Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Raden Muhammad Ayub, S.E mengatakan Indonesia telah menandatangani berbagai perjanjian perdagangan barang dan jasa dalam kerangka perjanjian Perdagangan bebas atau Free Trade Agreements (FTA) dan Perjanjian Kerjasama Ekonomi Komfrehensif atau Comprehensive Economic Partnership Agreements (CEPA) baik tingkat regional maupun bilateral.

"Selain itu, Indonesia juga aktif dalam perundingan perjanjian perdagangan Multilateral karena Indonesia merupakan anggota World Trade Organization (WTO)," lanjutnya.

Ayub berharap dengan adanya FTA atau CEPA ini dapat meningkatkan daya saing pelaku UMKM  di Indonesia, menciptakan akses pasar di luar negeri, standarisasi dan mendatangkan investor asing ke dalam negeri. 

Sementara itu Dina Kurniasari selaku Kasubdit Antar dan Sub Regional memberi solusi untuk meningkatkan ekspor untuk pelaku eksportir komoditi unggulan Bangka Belitung. Salah satunya mendorong pelaku usaha untuk memanfaatkan tarif preferensi untuk mengurangi biaya ekspor ke luar negeri, aktif dalam menyampaikan hambatan ekspor kepada Kementerian Perdagangan. Dina juga menyarankan pelaku eksportir melakukan terobosan inovatif untuk mendukung kemudahan pelaku usaha dengan mengakses beberapa link yang ada hubungannya dengan perdagangan internasional maupun regional.

Pada kesempatan tersebut juga membahas produk komoditi ekspor unggulan Bangka Belitung yaitu timah, sawit, lada, dan hasil perkebunan lainnya. Namun sangat disayangkan dalam setahun terakhir harga jual produk - produk unggulan termasuk lada putih Bangka menurun drastis sehingga merugikan para petani dalam biaya operasionalnya.

Pemerintah sudah mencari solusi dengan mengumpulkan para eksportir lada. Dan jawaban mereka satu suara saat ditanya apa yg menjadi kendala mengapa harga lada putih Bangka menurun. Setelah melakukan survey langsung ke pelaku usaha tani, para eksportir lada tersebut menemukan masalah bahwa ada sebagian dari 'pengumpul hasil lada mencampurkan bahan pengawet  yg dicampur dalam kemasan lada sehingga kualitas dari lada tersebut jadi menurun. Akibatnya eksportir enggan membeli dengan harga yang tinggi.

Ketika menghadapi problema tersebut, Aryoko, selaku Tenaga Ahli Bidang Strategi dan Pemasaran menyarankan sebelum proses pemasaran, pemerintah hendaknya melakukan uji mutu melalui satker pertanian.

"Semoga kendala turunnya harga jual untuk produk unggulan komoditi ekspor kembali mengalami kenaikan sehingga berefek pada kesejahteraan para petani dan pelaku usaha lainnya," harap Aryoko. 

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Reni Pebrianti (Pranata Humas pada DKP Babel)