Nilai Ekspor Bertahan di Angka US $85,76

Pangkalpinang – Maret, nilai ekspor Provinsi Kepulauan Bangka Belitung hanya berada diangka US $85,76 juta. Jika dibandingkan bulan sebelumnya terjadi penurunan sebesar 35,54 persen. Pasalnya nilai ekspor pada Februari menembus angka US $133,03 juta.

Herum Fajarwati Kepala BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengatakan, nilai ekspor timah sebesar US $69,31 juta dan non timah US $16,45 juta. Terjadi penurunan nilai ekspor timah tersebut setelah mengalami peningkatan selama dua bulan berturut-turut sebesar 37,67 persen.

“Total ekspor Januari hingga Maret 2015 mengalami penurunan secara signifikan sebesar 4,14 persen. Penurunan ini terlihat jika dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya,” kata Herum Fajarwati Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) saat konferensi pers di ruang rapat Kantor BPS, Rabu (15/4/2015).

Penurunan nilai ekspor disebabkan turunnya ekspor non timah hingga 6,28 persen. Semula nilai ekspor non timah sebesar US $67,85 namun setelah itu menjadi US $63,58 juta. Sedangkan ekspor timah mengalami penurunan sebesar 3,63 persen dari US $284,19 juta menjadi US $273,88 juta.

Komoditi timah merupakan ekspor terbesar atau sekitar 81,16 persen. Ia menambahkan, negara tujuan utama ekspor timah yakni Singapura yang mencapai US $42,79 juta atau 65,43 persen dari keseluruhan ekspor timah. Kemudian Belanda US $8,80 juta atau sebesar 11,79 persen, India US $7,40 juta atau 7,50 persen, dan diikuti Taiwan US $7,82 juta atau 6,83 persen.

“Tidak ada ekspor timah ke Korea Selatan. Kontribusi ekspor ke lima negara tersebut mencapai 96,38 persen dari total ekspor timah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,” tegasnya.

Mengulas angka perbandingan periode tahun sebelumnya, Januari hingga Maret 2014, Herum mengatakan, terjadi penurunan ekspor timah sebesar 3,63 persen yaitu US $284,9 juta menjadi US $273,8o juta. Sementara pada komoditi non timah, penyumbang ekspor terbesar berdasarkan kode Harmonized System (HS) 2 digit adalah golongan minyak atau lemak hewani dan nabati.

Ekspor golongan minyak atau lemak hewani dan nabati, jelasnya, sebesar US $37 juta. Angka ini berperan sekitar 58,14 persen terhadap ekpor non timah, diikuti golongan kopi, teh dan rempah-rempah US $20,9 juta, karet dan barang barang dari karet US $2,4 juta atau 3,73 persen.

Sementara untuk komoditi ikan dan hasil olahan ikan US $1,7 juta atau 2,72 persen. Ia menambahkan, ekspor golongan berbagai produk kimia mengalami penurunan dari US $1,9 juta pada Januari hingga Maret 2014 menjadi hanya US $ 1,0 juta pada Januari hingga Maret 2015. Kontribusi kelima golongan barang non timah tersebut mencapai 99,03 persen dari total ekspor non timah. Jika dibandingkan bulan sebelumnya, Februari 2015 terjadi penurunan ekspor total lima golongan barang ini sebesar 27,12 persen.

Namun ekspor terbesar tetap golongan minyak atau lemak hewani dan nabati sebesar US $11,9 juta, diikuti kopi, teh dan rempah rempah US $3,2 juta, karet dan barang barang dari karet sebesar US $0,2 juta dan ikan dan hasil olahan ikan sebesar US $0,6juta. Sedangkan untuk komoditi berbagai produk kimia tidak ada ekspor.

“Nilai ekspor non timah ini lebih stabil, walaupuan ada terjadi kenaikan dan penurunan,” ungkapnya.

Mengenai negara tujuan utama ekspor non timah di bulan Maret 2015, jelasnya, merupakan Negara Pakistan. Nilai ekspor ke negara tersebut mencapai US $5,9 juta dengan komoditi ekspor terbesar crude palm oil (CPO). Posisi kedua ditempati negara Belanda yang mencapai nilai US $3,3 juta dengan komoditi ekspor yang sama.

“Selanjutnya diikuti Singapura US $3,1 juta dengan komoditas lada putih, Vietnam US $2,4 juta dengan komoditi utama crude palm oil, dan Jepang US $0,4 juta dengan komoditi utama lada putih. Namun selama Maret 2015, tidak ada ekspor ke Bangladesh dan India,” paparnya.

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Evani
Fotografer: 
Nona Dian Pratiwi
Editor: 
Huzari