NTP Naik, Petani Semakin Sejahtera

Pangkalpinang – Nilai Tukar Petani (NTP) naik 0,51 persen. Angka pada bulan Agustus 99,05 persen,dan di bulan selanjutnya menjadi 99,55 persen. Kenaikan angka tersebut merupakan salah satu indikator terjadi peningkatan kesejahteraan petani di suatu wilayah. Indikator ini dihitung dari perbandingan indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga bayar petani dalam persentase.

Herum Fajarwati Kepala BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menjelaskan, kenaikan harga jual produksi pertanian dapat menambah pendapatan petani. Ini berdampak meningkatnya kesejahteraan patani. Secara umum semakin tinggi NTP, semakin sejahtera tingkat kehidupan petani. Hasil pemantauan harga-harga di wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bulan September, NTP mengalami kenaikan sebesar 0,51 persen.

“Agustus 2013, NTP diangka 99,05 persen. Lalu, September menjadi 99,55 persen. Kondisi ini menggambarkan naiknya NTP disebabkan adanya perubahan indeks harga yang diterima petani lebih besar dibandingkan perubahan indeks harga bayar petani,” kata Herum saat jumpa pers di Kantor BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Selasa (1/10/2013).

Lebih jauh ia menjelaskan, indeks harga yang diterima petani (IT) merupakan indikator fluktuasi harga beragam komoditas pertanian yang dihasilkan petani. Terdapat lima subsektor komoditas hasil-hasil pertanian dicatat perkembangan harganya. September lalu, secara umum IT mengalami kenaikan sebesar 0,36 persen. Di bulan Agustus, IT hanya berada diangka 129,83 persen, lalu naik menjadi 130,30 persen.

Kenaikan IT ini dikarenakan adanya kenaikan indeks yang diterima petani pada subsektor tanaman perkebunan rakyat dan peternakan. Ia menambahkan, sedangkan indeks yang dibayar petani (IB) dapat dilihat dari fluktuasi harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat pedesaan. Tercatat di bulan September, IB mengalami penurunan sebesar 0,15 persen jika dibandingkan bulan sebelumnya.

“IB di bulan Agustus 131,08 persen, lalu di bulan September hanya 130,89 persen. Indeks kelompok konsumsi rumah tangga (KRT) mengalami penurunan sebesar 0,24 persen dari angka 136,34 persen. Sedangkan indeks kelompok biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) mengalami kenaikan sebesar 0,19 persen dari 117,90 persen menjadi 118,12 persen,” jelasnya.

Berbicara mengenai subsektor tanaman pangan (NTP-P), Herum memaparkan, di bulan September mengalami penurunan indeks dari 80,32 persen menjadi 79,97 persen. Penurunan indeks ini sebesar 0,43 persen, dan ini menggambarkan turunnya NTP-P yang disebabkan perubahan indeks harga yang diterima petani lebih kecil dibandingkan dengan perubahan indeks harga yang dibayar petani. Penurunan IT ini dikarenakan indeks subkelompok palawija turun sebesar 0,92 persen.

“Pemicu utama penurunan indeks subkelompok palawija adalah, turunnya indeks beberapa komoditi di antaranya, ketela pohon dan ketela rambat. Penurunan juga terjadi pada indeks kelompok KRT sebesar 0,25 persen, atau dari 138,92 persen menjadi 138,58 persen. Sebaliknya kenaikan indeks pada kelompok BPPBM sebesar 0,21 persen, atau  dari 136,89 menjadi 137,17 persen,” ungkapnya.(hzr/rf)

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Huzari | Rizky
Fotografer: 
Rizky
Editor: 
Huzari