Peluang Emas Pengembangan Kawasan Jembatan Emas

Memasuki awal tahun 2018, popularitas Jembatan Emas kian berkilau. Terlebih setelah pada penghujung 2017 lalu digelar perhelatan yang lumayan spektakuler yakni Jazz on The Bridge (JOBB). Jembatan ini mulai dibangun sejak tahun 2009 dengan panjang 720 meter dan lebar 24 meter. Menariknya, jembatan ini menggunakan sistem buka tutup atau bascule sehingga menyedot perhatian masuyarakat yang berbondong-bondong mendatanginya sejak resmi beroperasi.

Jembatan Emas merupakan jembatan yang menghubungkan kawasan Ketapang Kota Pangkalpinang dan kawasan Lintas Timur Desa Air Anyir Kabupaten Bangka. Dibangun pada saat era pemerintahan Gubernur Eko Maulana Ali jembatan ini akhirnya rampung dan mulai benar-benar siap dioperasikan untuk umum pada era pemerintahan Gubernur Rustam Effendi dan Gubernur Erzaldi Rosman.

Secara geografis kawasan Jembatan Emas letaknya sangat strategis. Berada di pesisir Timur Pulau Bangka yang memanjang dari Selatan ke Utara. Jadi bila masyarakat dari Kabupaten Bangka Selatan dan Kabupaten Bangka Tengah akan berpergian ke kawasan Sungailiat atau Belinyu Kabupaten Bangka, maka tak perlu lagi melintasi kepadatan Kota Pangkalpinang. Cukup melewati simpang Hotel Aston menuju arah pintu masuk Bandara Depati Amir. Kemudian lurus dan belok kiri langsung menuju persimpangan gerbang perkantoran gubernur. Ambil jalan lurus maka tak lama kemudian sudah memasuki kawasan Jembatan Emas.

Kawasan Jembatan Emas ini dihubungkan oleh jalan aspal yang disebut sebagai kawasan Lintas Timur. Kawasan Lintas Timur ini membentang dari Jembatan Emas, Air Anyir, Tanjung Ratu, Rebo dan Sungailiat.

Di kawasan ini terdapat pula Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. (HC) Ir. Soekarno milik Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. RSUD Soekarno kini dalam proses menuju Kelas B karena telah ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan dan Pemprov Babel sebagai rumah sakit pusat rujukan di kawasan Kepulauan Bangka Belitung. Bahkan rumah sakit ini telah digadang-gadang sebagai rumah sakit yang mengembangkan pelayanan spesialistik unggulan, yakni pusat pelayanan otak dan jantung terpadu (brain and heart center) dan pelayanan kanker terpadu (oncology center).

Pemrintah Kabupaten Bangka sendiri telah memetakan kawasan Lintas Timur merupakan simpul dari Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata yang telah ditetapkan pemerintah. Dengan kata lain, kawasan Lintas Timur memang akan dikembangkan kawasan wisata pantai yang memang sejak dulu sudah terkenal memiliki pantai-pantai yang indah dan sudah dikenal luas.

Namun untuk mempercepat akselerasi pembangunan di kawasan Jembatan Emas dan Lintas Timur kiranya perlu dilakukan berbagai upaya secara berkesinambungan. Di kawasan Jembatan Emas dan Lintas Timur ke depan bisa disiapkan sebagai kawasan pengembangan bisnis perhotelan, restoran dan kafe serta sarana rekreasi keluarga seperti water boom. Selain itu bisa dikembangkan sebagai kawasan perumahan, perkantoran, dan sarana olahraga seperti pembangunan stadion baru atau kolam renang baru. Sehingga perlu disiapkan langkah pembebasan lahan yang masuk zona hutan lindung maupun milik pribadi masyarakat secara tepat sesuai koridor hukum yang berlaku.

Guna mendukung percepatan pembangunan di kawasan Lintas Timur tersebut ada wacana bagus yang pernah dilontarkan oleh Kepala Bappeda Babel Ferry Insani dan Kepala Dinas Kesahatan Babel Mulyono Susanto, bahwa di sekitar kawasan RSUD Soekarno perlu dikembangkan menjadi kawasan kecamatan yang baru sebagai pengembangan wilayah administratif Kecamatan Merawang Kabupaten Bangka. Apalagi Kecamatan Merawang sangat luas sehingga sangat memungkinkan dimekarkan menjadi dua kecamatan. Semisal, menjadi Kecamatan Merawang Barat dan Kecamatan Merawang Timur. Untuk Ibukota Kecamatan Merawang Timur bisa saja berada di Desa Air Anyir atau Desa Tanjung Ratu.

Diharapkan dengan adanya pemekaran kecamatan ini tercipta multi efek yang bermuara pada pengembangan kawasan Lintas Timur. Termasuk tersedianya sarana dan fasilitas publik, memperpendek rentang kendali pemerintahan, dan mudahnya pemantauan kawasan Lintas Timur. Khusus bagi RSUD Soekarno dengan berkembangnya kawasan ini otomatis jumlah kunjungan pasien akan meningkat bahkan wacana sebagai rumah sakit pariwisata pun bisa diaplikasikan. Artinya orang bisa berwisata ke kawasan wisata di Lintas Timur sekaligus bisa melakukan pemeriksaan kesehatan (medical checkup) ke rumah sakit Kelas B yang telah menyiapkan pelayanan pemeriksaan kesehatan tersebut secara optimal.

Tentu saja merealisasikan peluang emas pengembangan kawasan Jembatan Emas ini tak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Berbagai pihak seperti Gubernur Babel, Bupati Bangka, dan Walikota Pangkalpinang mesti bersatu atau bersinergi dengan didukung oleh lembaga legislatif, masyarakat, dan kalangan dunia bisnis (investor). Sehingga kawasan ini nantinya akan benar-benar menjadi kawasan yang berkilau sesuai dengan namanya Jembatan Emas. Semoga.

(Tulisan ini pernah dimuat di Harian Bangka Pos edisi Rabu 17 Januari 2018)

 

Penulis: 
Irwanto
Sumber: 
Tim Komunikasi Gubernur Babel

ArtikelPer Kategori