Pembauran Kebangsaan Mutlak Dilaksanakan

Pangkalpinang – Pembauran kebangsaan mutlak harus dilaksanakan. Jangan sampai terjadi konflik antara suku, etnis, agama dan antar kampung. Untuk melakukan pembangunan harus didasari dan memahami arti penting tentang Pancasila dan Bhineka Tungga Ika. Pasalnya, tujuan akhir Pancasila ingin mewujudkan masyarakat Indonesia sejahtera.

"Saat ini orang-orang hanya sekedar membaur saja, namun tidak benar-benar berbaur satu sama lain,” jelas Syamsul Komar narasumber dari Tim Training of Trainers (TOT) Pelatihan Pembauran Kebangsaan di Hotel Puncak, Jumat (22/5/2015).

Dijadwalkan kegiatan ini berlangsung selama lima hari, terhitung tanggal 18 hingga 22 Mei 2015. Terdapat berbagai elemen mengikuti kegiatan yang dimotori Kesbangpol Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini, di antaranya tokoh agama, akademisi, paguyuban dan Kesbangpol kabupaten/kota.

Lebih jauh ia mengatakan, jika seandainya benar-benar berbaur, warga miskin berbaur dengan warga kaya dan orang kaya menanyakan masyarakat miskin bekerja apa? Jika masyarakat miskin tidak mempunyai pekerjaan, masyarakat dari golongan kaya memberikan pekerjaan.

“Pelaksanaan kegiatan training pembauran kebangsaan seperti ini penting dalam kehidupan bermasyarakat. Untuk mensosialisasikan mengenai wawasan kebangsaan, Undang-Undang Dasar 45, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika,” tegasnya.

Tujuan akhir Pancasila tertuang dalam sila kelima yakni Kesejahteraan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Syamsul menambahkan, jika semua masyarakat sudah sejahtera, tidak akan terjadi konflik. Meskipun dalam penerapan sila kelima ini memang agak berat.

"Saya berharap Pancasila bisa diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat,"  ungkapnya.

Sebagaimana diketahui, tujuan kegiatan training memberi pembekalan, sehingga seluruh masyarakat khususnya di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tidak membedakan antar etnis dan agama. Semuanya satu kesatuan yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ristina narasumber Tim Training of Trainers (TOT) Pelatihan Pembauran Kebangsaan mengatakan, kegiatan ini diikuti berbagai unsur dan elemen masyarakat. Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok, dan setiap kelompok terdiri dari unsur, elemen masyarakat berbeda. Sehingga anggota kelompok saling mengenal dan berbaur satu dengan yang lainnya.

"Ke depan diharapkan peserta bisa menjadi trainer di kabupaten/kota. Kegiatan ini bisa berkelanjutan, tidak hanya selesai di sini saja," kata Ristina.

Melalui training ini peserta diajarkan bagaimana cara berbaur dalam suatu kelompok dan etnis berbeda. Ia menjelaskan, hasil TOT tahun lalu terpilih tiga orang dari peserta menjadi trainer dan fasilitator.

“Peserta yang terpilih tersebut yakni, saya sendiri dari unsur elemen akademisi, Janawi dari tokoh agama sekaligus dosen STAIN dan Syamsul Komar dari Paguyuban Palembang,” jelasnya.

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Chandra
Fotografer: 
Rizky
Editor: 
Huzari