Pemda Terus Kendalikan dan Cegah Penyakit Tidak Menular

Pangkalpinang -  Upaya membangun pemahaman  akan pentingnya menjaga kesehatan dan upaya pengendalian penyakit tidak menular khususnya akibat penggunaan tembakau secara aktif terus dilakukan oleh pemerintah.

Hal ini diungkapkan  Zamhir Setiawan selaku Kasubdit Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah Direktorat PTM Ditjen P2PTM Kementerian RI pada Kamis (31/05) usai pelaksanaan kegiatan teleconferens antara Menteri Kesehatan dengan sejumlah pemerintah daerah pada peringatan hari tanpa tembakau sedunia. 

“Sudah disampaikan Menteri Kesehatan maupun lembaga WHO bahwa penyakit tidak menular ini semakin meningkat dan paling banyak untuk PTM itu diantaranya adalah jantung dan stroke itu paling banyak terjadi saat ini di indonesia”, ungkap Zamhir Setiawan.

Diungkapkan Zamhir Setiawan pengggunaan tembakau atau perokok berat merupakan satu faktor resiko yang memicu penyakit tidak menular seperti hipertensi dan jantung dan secara berkepanjangan bisa menjadi faktor resiko pemicu penyakit paru obstruktif kronik. 

 “Ada empat faktor resiko utama yang menjadi pemicu penyakit tidak menular seperti jantung maupun hipertensi diantaranya pengggunaan tembakau (merokok), diet yang tidak sehat, aktivitas fisik yang kurang dan juga konsumsi alkohol,” ungkap Zamhir Setiawan

Zamhir Setiawan menjelaskan terjadinya penyakit tidak menular khususnya yang dipicu oleh penggunaan tembakau (perokok berat) tidak saja terjadi pada kelompok usia 60 tahun bahkan telah menyentuh pada kelompok usia 40 tahun.

 “Dari data bahwa kecenderungan sekarang ini, prevalensi penyakit tidak menular seperti jantung, hipertensi dan stroke yang dipicu oleh faktor penggunana tembakau yang terus menerus, tidak saja terjadi pada kelompok di usia 60 tahun, bahkan dialami juga pada kelompok di usia 40 tahun sudah banyak yang terkena hipertensi, jantung dan stroke, “ tutur Zamhir Setiawan.

Berangkat dari kondisi diatas, pemberlakukan aturan mengenai kawasan tanpa merokok (KTM) , identifikasi subjek beresiko tinggi dan intervensi dini melalui pendidikan kesehatan tentang bahaya dan resiko penggunaan tembakau diharapkan dapat mencegah dan mengendalikan akan pravelensi PTM yang dipicu oleh penggunaan tembakau.

Menurut Zamhir, rogram KTM ini sudah dimulai sejak tahun 2012. Pemberlakuan KTM ini satu diantaranya dikarenakan data yang ada menujukan bahwa tingkat pravelensi dari penyakit tidak menular.

“Target program KTM (kawasan tanpa merokok ) adalah sekolah, jadi Perda KTM ini satu implementasinya adalah ke sekolah-sekolah. Kami mendorong agar sekolah di daerah harus menerapkan kawasan tanpa merokok. Hal ini karena data yang ada saat ini penggunaan tembakau terjadi peningkatan di kalangan anak dan remaja,” tegas Zamhir Setiawan.

Hal senada juga diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitng Mulyono Susanto bahwa upaya mengendalikan prevalensi penyakit tidak menular yang dipicu oleh faktor resiko penggunaan tembakau terus dilakukan oleh pemerintah daerah baik melalui pemberlakuaan kebijakan kawasan tanpa merokok dan juga sosialisasi pendidikan kesehatan kepada kalangan pelajar.

“Pemerintah provinsi hingga kabupaten/kota sudah mengeluarkan aturan atau perda tentang kawasan tanpa merokok. Ini perlu dioptimalkan dalam rangka mengendalikan pravelensi PTM seperti hipertensi akibat dari penggunaan tembakau. Prevalensi penyakit tidak menular di Bangka Belitung cukup tinggi khususnya hipertensi,” ungkap Mulyono Susanto.

Lebih jauh, Mulyono Susanto juga mengungkapkan bahwa dalam rangka mengendalikan pravelensi penyakit tidak menular karena faktor penggunaan tembakau adalah melalui sosialisasi pendidikan kesehatan kepada para pelajar.

Pada kegiatan tersebut juga dilaksanakan penandatanganan komitmen kawasan tanpa merokok yang secara simbolis diwakili oleh perwakilan OPD  di lingkungan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Stevani
Fotografer: 
Adinda Chandralela (Humas Dinkes)