Pentingnya Peran Keluarga dan Pemerintah Untuk Cegah Pernikahan Dini

 

PANGKALPINANG - Peran serta pemerintah daerah dan orang tua sangat diperlukan untuk mengatasi pernikahan anak di bawah umur. Hal tersebut disampaikan Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Erzaldi Rosman saat menjadi keynote speeker dihadapan 250 peserta seminar yang terdiri dari siswa pelajar, mahasiswa, guru dan sejumlah orang tua pada acara seminar kependudukan 2017 yang bertemakan tentang Fenomena dan Dampak Pernikahan Usia Muda di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, hari Kamis (26/10/2017) di Soll Marina Hotel.

Ajakan untuk mengentaskan masalah anak  tidak terlepas dari realita bahwa fenomena pernikahan anak di bawah umur sangat memprihatinkan dan butuh perhatian serius.

“Indonesia termasuk negara dengan persentase fenomena pernikahan usia muda tinggi di dunia di urutan 37 dan tertinggi ke dua di ASEAN setelah negara Kamboja. Bahkan secara tingkat nasional, Bangka Belitung berada dalam urutan keempat setelah Kalimantan Tengah, Jawa Barat, dan Kalimantan Selatan. Hal tersebut membutuhkan upaya bersama untuk menanggulangi dan mencegah fenomena ini,” tegas Gubernur

Himbauan dan ajakan Gubernur kepada generasi muda agar tidak melakukan pernikahan di bawah umur dengan memberikan penjelasan tentang dampak dan kondisi psikologi anak khususnya aspek perkembangan fisik, aspek perkembangan kognitif dan emosi psikologi anak usia dini yang sangat rentan serta masih dalam masa perkembangan.

“Pernikahan usia dini terjadi pada anak—anak yang secara perkembangan aspek psikologis baik perkembangan psikologis fisik, aspek perkembangan psikologis kognitif dan psikologi emosi anak yang rentan dalam artian belum cukup usia dan belum dewasa saya sampaikan jangan menikah dibawah umur,” tegas Gubernur.

Lebih jauh, dalam kesempatan tersebut gubernur juga menyampaikan dan mengajak generasi muda untuk menghindari dan harus mampu menjaga diri dari pergaulan bebas yang merupakan salah satu pemicu terjadinya pernikahan dini. “Saya minta adik-adik harus bisa menjaga diri dan jauhi pergaulan bebas,” tegas Gubernur.

Himbauan dan ajakan kepada orangtua juga disampaikan gubernur terkait untuk membantu pemerintah dalam mencegah terjadinya pernikahan usia dini. Orang tua merupakan garda terdepan yang  memiliki peranan utama dalam mengasuh, mendidik dan membentuk karakter anak sehingga dengan terbentuknya karakter anak. Melalui peran aktif keluarga, Gubernur berpandangan pernikahan dini dapat dicegah dan tidak terjadi.

Mengenai pentingya peran orangtua dalam membentuk karakter anak, sehingga anak dapat tercegah dari pernikahan di bawah umur juga disampaikan oleh Kepala BKKBN Surya Chandra Surapaty. Surya menyampaikan bahwa keluarga merupakan pilar utama dalam pembentukan karakter anak.

“Karakter setiap anak terbentuk dalam keluarga, maka dalam keluarga tersebut harus betul-betul dibentuk dengan perencanaan. Itulah program berencana dari lembaga BKKBN yang merupakan bagian dari program pembangunan keluarga yang memakai siklus kehidupan. Orang tua memiliki peran memberikan pola asuh kepada anak, memcukupi gizi anak, memberikan cinta kasih dan asah yang dibutuhkan dalam masa pertumbuhan dan perkembangan anak,” tegas Surya.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala BKKBN juga menyampaikan bahwa kelurga adalah kunci utama dalam melindungi anak dari permasalah anak usia dini khususnya yang berkaitan dengan terjadinya pernikahan dini. Diungkapkan Surya, bahwa melalui kelurga merupakan sarana untuk menanamkan nilai-nilai seperti agama, cinta kasih, fungsi reproduksi, fungsi pendidikan, sosila budaya, ekonomi serta lingkungan dan sekaligus tempat perlindungan bagi anak.

Lebih jauh, Gubernur mengungkapkan dalam rangka memberikan perlindungan anak dan mencegah dan menanggulangi terjadinya pernikahan anak di bawah umur, saat ini pemerintah daerah bersama dengan BKKBN melakukan langkah-langkah mengurangi pernikahan anak di bawah umur meliputi:

  1. MoU pencegahan pernikahan dini (BP4) dengan Kantor wilayah KEMENAG
  2. Penguatan kelembagaan dan kegiatan forum anak, pramuka, OSIS dan PIK-R
  3. Kampus Keluarga Berencana seluruh desa (target 90% tahun 2022)
  4. Sosialisasi PAAR ( pola asuh, anak dan remaja) kerjasama dengan seluruh elemen terutama masyarakat
  5. Menjadi tuan rumah dalam kegiatan Kemah Konselor Sebaya Nasional di bulan Februari 2018
  6. Kebijakan panggung kreasi anak dan remaja di Kab/Kota

Selain diikuti oleh pelajar dan orang tua, hadir dalam kegiatan tersebut Kepala BKKBN Perwakilan Wilayah Bangka Belitung, Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Kep. Bangka Belitung, tim penggerak PKK,  Kepala BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dan Organisasi perangkat Daerah DP3ACSKB Provinsi maupun kabupaten/kota, perwakilan koalisi kependudukan wilayah Bangka Belitung dan pemerhati anak.

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Stevani
Fotografer: 
Yulius (Biro Humas Setda Provinsi Kep. Bangka Belitung)