Penurunan NTP Dipengaruhi Indeks Harga Diterima Petani

Pangkalpinang – Nilai Tukar Petani (NTP) di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung November lalu secara umum sebesar 98,58 poin. Angka ini mengalami penurunan sebesar 0,98 persen dibanding bulan sebelumnya yakni 99,56. Penurunan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) mengalami penurunan sebesar 0,53 persen lebih besar dari naiknya indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,46 persen.

Darwis Sitorus Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menjelaskan, NTP subsektor tanaman pangan sebesar 92,40, subsektor hortikultura 99,69, subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 99,42 dan subsektor peternakan 92,73 poin. Sedangkan untuk subsektor perikanan 107,09 dengan kelompok perikanan tangkap 109,06 dan kelompok perikanan budidaya sebesar 93.89 poin.

Kondisi tersebut berdampak terjadi inflasi di daerah pedesaan sebesar 0,553 persen. Ia memaparkan, ini akibat naiknya hampir seluruh indeks kelompok konsumsi rumah tangga yaitu pada kelompok bahan makanan, kelompok makanan jadi, kelompok perumahan, kelompok kesehatan serta kelompok transportasi dan komunikasi.

“Sedangkan nilai tukar usaha rumah tangga pertanian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung November 2016 sebesar 107,08 poin atau turun sebesar 0,57 persen dibanding bulan sebelumnya yang mencapai 107,70 poin,” kata Darwis saat jumpa pers di Kantor BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (12/1/2016).

NTP diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani. Darwis mengatakan, ini merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan dan daya beli petani di perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi.

Semakin tinggi NTP, jelasnya, secara relatif semakin tinggi pula tingkat kemampuan dan daya beli petani. Sedangkan nilai tukar usaha rumah tangga pertanian diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani. Komponennya hanya terdiri dari biaya produksi dan penambahan barang modal.

“Dengan dikeluarkannya konsumsi dari komponen indeks harga yang dibayar petani, nilai tukar usaha rumah tangga pertanian dapat lebih mencerminkan kemampuan produksi petani. Karena yang dibandingkan hanya produksi dengan biaya produksinya,” ungkapnya.

Lebih jauh Darwis menjelaskan, ada lima provinsi di Sumatera bagian selatan (Sumbagsel) yang menyusun NTP nasional pada November 2016. Empat provinsi mengalami kenaikan NTP yaitu Provinsi Bengkulu sebesar 0,54 persen, Provinsi Lampung sebesar 0,38 persen, Provinsi Jambi sebesar 0,13 persen dan Provinsi Sumatera Selatan sebesar 0,03 persen.

“Sedangkan satu provinsi mengalami penurunan NTP yaitu Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebesar 1,02 persen,” paparnya. 

Sumber: 
Diskominfo Babel
Penulis: 
Rizky Fitrajaya/Huzari
Fotografer: 
Rizky Fitrajaya
Editor: 
Huzari | Adi Tri Saputra