Poin Penting Sebagai Peneliti Kajian Tradisi Daerah

PANGKALPINANG – Tidak sembarang orang dapat menjadi peneliti kajian tradisi daerah. Dibutuhkan sejumlah poin penting yang harus dimiliki oleh seseorang sebelum dipercaya untuk mendalami suatu kajian tradisi daerah.

Zuardi, Kepala Bidang Pengembangan Kebudayaan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Disbudpar Babel) mengatakan sebelum mendalami suatu kajian tradisi daerah seseorang harus memiliki sejumlah poin penting.

“Ada beberapa poin penting yang harus diperhatikan untuk seseorang yang akan mengkaji tradisi daerah. Dua diantaranya harus punya passion dan tentu saja kecakapan dalam menulis. Itu sangat penting sekali karena akan sangat menentukan kualitas hasil kajian,” kata Zuardi di kantor Disbudpar Babel belum lama ini.

Menurutnya, passion dan kecakapan menulis adalah dua hal yang akan sangat membantu dalam proses penelitian kajian hingga menjadi suatu tulisan yang bermanfaat.

“Hasil tulisan kajian ini kan nantinya akan bermanfaat sebagai salah satu sumber literasi bagi siapa saja yang ingin mempelajarinya. Passion akan menggerakkan seseorang yang akan meneliti dengan sangat baik, karena passion berasal dari dalam diri sang peneliti itu sendiri,” papar Zuardi.

Masih dikatakan Zuardi, kecakapan seseorang dalam menulis akan membantu dalam menuangkan hasil kajiannya dalam bentuk tulisan yang berkualitas dan bermanfaat bagi banyak orang.

Senada dengan Zuardi, Hera Riastina, Pengelola Urusan Kerjasama Pengembangan Seni dan Budaya  mengatakan mencari orang yang akan ditugaskan untuk mendalami suatu kajian tradisi tidak mudah. Termasuk yang memiliki kemampuan dalam menulis.

“Kemampuan seseorang dalam menulis ini dapat dikatakan dasar dalam suatu pengkajian. Dan passion juga menjadi hal utama. Metode penulisan bagus tapi tidak mendalam, percuma. Jadi harus ada kedua poin ini,” kata Hera.

Hera yang juga merupakan Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Kajian Tradisi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menjelaskan sejumlah pertanyaan juga disampaikan secara tidak terstruktur untuk mengetahui sejauh apa pengalaman dan ketertarikan seseorang yang ingin meneliti kajian tradisi terkait.

“Sebelumnya kita juga memberikan pertanyaan kepada mereka, tapi tidak terstruktur. Misalnya, batasan pengetahuan tentang materi kajian, kesiapan dari segi waktu dan pendanaan selama penelitian, melihat contoh tulisan yang pernah dibuat, dan beberapa poin penting lainnya,” tambah Hera.

Pendalaman kajian tradisi Bangka Belitung akan dilakukan selama empat hingga enam bulan. Hasil awal kajian akan dibahas dalam bedah buku dengan melibatkan sejumlah pihak yang berkaitan dengan kajian sebelum nantinya diterbitkan dalam bentuk buku sebanyak sepuluh eksemplar untuk dua kajian, yakni Cual dan Kelekak.

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Ernawati Arif (Pranata Humas Disbudpar)
Fotografer: 
Rafiq
Editor: 
Irwanto