Politik Badut, Berpolitik Seenak Perut

KEKAYAAN  Sumber Daya Alam (SDA) yang dimiliki Indonesia begitu melimpah. Dengan jumlah penduduk sekitar 260 juta jiwa, SDA yang ada mampu menopang hidup rakyat Indonesia.
Tentu kekayaan alam yang melimpah ini wajib hukumnya dikelola oleh segenap sumber daya manusia yang berjiwa tanah air, kebhinekaan terus berkumandang menggelegar seakan mengoyak seisi perut bumi ibu pertiwi Indonesia.

Seiring kehidupan sosial yang terus berjalan, dinamika perpolitikan indonesia juga kian menjelma bagaikan buah simalakama.
Kenapa dunia pemerintahan harus dipimpin oleh seorang aktor politik? Kenapa peran dunia politik begitu besar terhadap pemerintahan? Tanpa pemimpin yang mengatasnamakan produk Politik apakah roda pemerintahan  bisa berjalan. Ironis bukan, jika ditelusuri sekelumit pemikiran masyarakat akan nasibnya bergantungan hidup di suatu daerah atau negara yang penuh misteri akan perpolitikan.

Tahun 2018 dan 2019 merupakan tahun politik, sehingga wajar terjadinya gejolak politik di tingkat nasional maupun daerah. Sektor perekonomian, investasi dan sosial serta agama pun ikut terkena imbas gelora  perpolitikan. Tak salah jika kita katakan bahwa  saat ini Politik Badut kian mempesona.  Para aktor politik saling menjelma seperti badut, berubah wajah untuk sekedar mengelabui lawan, menjelma sebagai  seorang aktor politik yang cerdas.

Badut Politik ini biasanya mengumbar senyum disetiap perhelatan, cari sensasi, tebar pesona, tebar janji politik, jadi sosok seorang pahlawan dalam setiap peristiwa terkait kemanusiaan, rasa simpati terhadap masyarakat ekonomi lemah, serta berbagai program misi visi seakan menghipnotis segenap lapisan masyarakat. Diera digitalisasi saat ini doktrin bagi masyarakat seakan layaknya seperti sampah. Masyarakat saat ini sudah cerdas, money politik, jargon politik yang kian menjamur di tengah kisruhnya peperangan antar aktor politik seakan dijadikan sebagai senjata bagi masyarakat. Momentum yang terjadi kian membuat masyarakat merasa muak akan perpolitikan yang hanya janji disaat kampanye.

Seiring berjalannya waktu, kita sering  mendengar disekitar kita banyak yang beranggapan bahwa terserah orang berpolitik, saat orang politik kampanye, ambil uangnya, bantuan baik sembako maupun apapun bentuknya, soal pilih atau tidak tergantung dibalik bilik suara.
Politik yakni cara untuk mencapai sesuatu yang diinginkan. Berbicara etika erat kaitannya dengan moral, sopan santun, tata krama serta cara bersikap. Dimana saat ini perpolitikan yang terjadi di daerah atau negara kita apakah sudah layak dikatakan etika politik sudah diterapkan dengan baik. Berbicara masalah atmosfir pergulatan dunia politik memang tak pernah habis, namun yang harus ditekankan bukan sebuah kata politik, tapi kembali kepada orang yang bergelut di dunia politik yakni aktor politik tersebut.

Tak asing terdengar bahwa banyak yang mengatakan Politik itu kejam, hal ini yang harus kita luruskan saat ini. Politik tidak kejam karena politik adalah sebuah perumpamaan kata cara mencapai sesuatu yang ingin diwujudkan. Yang kejam adalah aktor politik yang mempunyai peran besar dalam pergulatan atmosfir perpolitikan saat ini.

Memasuki tahun politik kental akan dilema yang berkepanjangan di masyarakat, iklim perekonomian kian terombang ambing, kehidupan sosial, agama dimasyarakat kian melahirkan keretakan diatas kbhinekaan bangsa saat ini. Pemilihan kepala daerah, legislatif, Pemilihan Presiden adalah masa-masa yang penuh dengan misteri, ironisnya perpolitikan dimasa kemajuan teknologi digitalisasi dijadikan sebagai candu untuk sebuah kepentingan komunitas atau golongan.

Masyarakat butuh sosok Pemimpin seluruh umat, tanpa ada embel-embel mengatasnamakan golongan politik, terpilihnya pemimpin sejati merupakan sebuah impian segenap masyarakat. Disetiap perhelatan pemilihan pemimpin begitu kental perguncingan bahkan adu kekuataan politik diantara panggung politik. Siapa yang menguasai panggung seakan merasa memiliki kekuasa penuh terhadap nasib kepala disuatu daerah maupun negara.dwmikian dengan lawan politik yang tersingkir dan kalah seakan terus merongrong dengan berbagai kekuataan untuk terus menjatuhkan masa kepemimpinan terpilih.

Tanpa kita sadari, bahwa kita adalah saudara, kbhinekaan tunggal ika terus tertanam didalam sanubari setiap jiwa warga negara indonesia, sang merah putih terus berkibar menandakan kita adalah satu kesatuan dalam tanah air indonesia tercinta.

Berpolitik boleh saja, namun terapkan etika berpolitikan yang baik, kalah menang merupakan suatu amanah segenap unsur masyarakat di tanah air, tanpa mengeyampingkan kepentingan sebuah golongan. Yang menang terpilih jadi seorang pemimpin selayaknya mengemban amanah yang telah dititipkan seluruh jiwa masyarakat, yang kalah tanpa terpilih harus saling bahu membahu saling menopang diri untuk bersama mewujudkan cita-cita impian secara massif.

Mari bersama saling merangkul, keharmonisan berpolitik menjadi kunci utama untuk mewujudkan cita-cita bangsa tanpa ada kepentingan suatu golongan. Sehingga terwujudnya satu kesatuan dalam membangun daerah dan indonesia tercinta
Salam Indonesia, Salam Dari  Anak Kampung. (*).

Pernah di Muat di Okebozz.com pada tanggal 30 April 2018

Penulis: 
Adi Tri Saputra Pranata Humas Diskominfo Pemprov Babel
Sumber: 
Diskominfo