Potensi Besar Hutan Mangrove Di Desa Kurau Barat dan Timur

KURAU, BANGKA TENGAH – Hutan Mangrove merupakan salah satu komunitas tumbuhan yang hidup di kawasan pinggiran pantai. Ekosistem mangrove, baik sebagai sumber daya alam merupakan pelindung lingkungan yang memiliki peran amat penting dalam aspek ekonomi dan ekologi bagi lingkungan sekitarnya.

Untuk itu, Gubernur Babel Erzaldi bersama Dinas kehutanan dan jajajaran nya pada hari kamis (27/07/2017) mengunjungi Desa Kurau Barat dalam rangka penanaman bibit mangrove. Dalam kegiatan tersebut, turut hadir Kepala Kejaksaan Tinggi Provinsi Bangka Belitung, Happy Hadiastuty SH MH, Komandan Lanal Babel Letkol Laut Iwan Kuswanto, Komandan Korem/Danrem 045/Garuda Jaya(Gaya), Kolonel Inf Abdurrahman, dan juga Prof Tri Widodo yang mendampingi.

Saat tiba di desa kurau barat, Gubernur Erzaldi bersama rombongan langsung disambut oleh masyarakat setempat, yang kemudian dilanjutkan menuju lokasi dengan berjalan kaki bersama-sama menempuh jalan tanah kurang lebih 800 meter dari jalan utama.

Acara dibuka dengan sambutan dari Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Babel Nazalyus. Dalam sambutannya Nazalyus menerangkan bahwa Hutan mangrove di Provinsi Babel ini memiliki peranan penting terhadap kelangsungan hidup masyarakat khususnya di daerah pesisir. Selain itu Ia juga menjelaskan potensi flora dan fauna yang ada di dalam hutan mangrove.

“Hutan Mangrove di Desa Kurau Barat dan di Desa Kurau Timur merupakan Kawasan Hutan Lindung Sungai Pelawan yang memiliki banyak potensi, seperti berbagai jenis pohon mangrove yaitu; Avicennia alba dan Avicennia marina, Rhizophora apiculata, Rhizopora muconota, Nypah fruticant, Bruguiera spp dan sebagainya. Serta potensi pemanfaatan mangrove yang menghasilkan produk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK),” terang Nazalyus.

Lebih jauh Nazalyus menjelaskan mengenai pemanfaatan dan penanaman pohon di Hutan Mangrove yang dapat dilakukan dengan pola Silvofishery di dalam area hutan mangrove. Hal ini memungkinkan adanya budidaya perikanan tanpa perlu mengkonversi area mangrove. “Dengan alternatif pengelolaan seperti ini, diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomi hutan mangrove tanpa mengancam fungsi ekologinya,” jelasnya.

Untuk jenis Komoditas perikanan yang sesuai dengan budidaya Silvofishery ini adalah kepiting bakau, udang dan ikan. “ tetapi penanaman mangrove di dalam tambak tetap di upayakan,” imbuhnya.

Selain itu, nazalyus mengungkapkan bahwa di dalam Hutan Mangrove juga menghasilkan hasil hutan bukan kayu (HHBK), seperti madu. Dimana madu ini bersumber dari lebah kelulut. Madu yang dihasilkan dari lebah yang tidak bersengat dengan hasil madu yang sama seperti lebah madu. “Rasanya sedikit asam kalau dibandingkan dengan madu lebah, tetapi khasiatnya lebih tinggi dari pada lebah madu,” terang Nazalyus.

Nazalyus pun berharap kegiatan penanaman bibit hutan mangrove ini dapat memberikan dorongan kepada para pihak agar mencintai lingkungan serta meningkatkan kesadaran akan pengetahuan. “Saya mengharapkan peran serta semua pihak untuk turut serta dalam upaya melestarikan mangrove dan pengelolaan hasil hutan bukan kayu mangrove.” Tutupnya. (K5)

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
khalimo
Fotografer: 
Khalimo