Produksi Perkebunan Sawit Melebihi Kapasitas, Tiga Pabrik jadi Solusi

BANGKA BARAT -- Kendati sudah sejak lima tahun lalu dilakukan moratorium penanaman sawit, namun masih saja terjadi pembukaan perkebunan sawit. Sehingga hal ini berdampak terhadap produksi sawit menjadi melebihi kebutuhan pabrik, dan implikasinya terjadi penurunan harga tanda buah segar (TBS) sawit.

Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Erzaldi Rosman menjelaskan, jumlah peningkatan perkebunan sawit sudah diluar kendali. Padahal lima tahun sebelumnya, sudah ada upaya moratorium pembukaan lahan perkebunan sawit. Karena jumlah produksi melebihi, membuat harga TBS murah. Pemerintah provinsi terus mencari solusi persoalan tersebut.

"Kondisi yang terjadi sekarang, kapasitas produksi pabrik tetap namun jumlah produksi perkebunan sawit terus meningkat. Untuk itu pemerintah provinsi berupaya menarik investasi pembuatan pabrik baru," jelas Gubernur Erzaldi, Kamis (11/10/2018).

Sementara ini sudah ada tiga pabrik pengelolaan TBS bakal berdiri. Menurut Gubernur Erzaldi, pembangunan pabrik tersebar di sejumlah kabupaten di Bangka Belitung. Untuk mendirikan pabrik hingga bisa beroperasional diperkirakan membutuhkan satu tahun lebih. Jika pabrik ini sudah beroperasi, diharapkan menjadi solusi rendahnya harga TBS.

Selain menyinggung mengenai komoditas sawit, saat melakukan natak kampung di Kabupaten Bangka Barat, Gubernur Erzaldi juga membicarakan dan mengajarkan masyarakat petani strategi menjual komoditi perkebunan lada. Jika harga lada sedang murah, lebih baik disimpan terlebih dahulu.

Masyarakat dapat memanfaatkan program resi gudang yang sedang digalakkan pemerintah provinsi. Gubernur Erzaldi mengatakan, jika masyarakat menitip lada menggunakan resi gudang, maka bisa mencairkan dana 70 persen dari nilai jual lada. Artinya resi yang diterima masyarakat bisa dimanfaatkan untuk meminjam uang di bank.

Kendati demikian, lada masyarakat yang dititipkan tetap menjadi milik sendiri. Sebab ketika harga sudah membaik, lada yang disimpan di gudang bisa dijual. Kemudian hasil jual lada itu, digunakan untuk membayar pinjaman lalu sisanya bisa dimanfaatkan masyarakat. Ini menjadi salah satu strategi meningkatkan harga lada.

"Titip lada ke gudang, lalu jual lada itu ketika harga sudah membaik. Masyarakat tetap mempunyai stok lada, namun mendapatkan manfaat dari lada yang disimpan tersebut. Jika berminat, masyarakat bisa mengumpulkan lada kemudian akan diangkut ke gudang tanpa harus mengeluarkan biaya transportasi," kata Gubernur Erzaldi.

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Huzari
Fotografer: 
Mamaqdudah