Rebo Kasan, Berdoa Bersama Menolak Bala

Mudel, Bangka – Masyarakat Dusun Mudel, Desa Air Anyir, Kabupaten Bangka mempunyai adat unik untuk menolak bala (malapetaka). Setiap terakhir hari Rabu bulan Safar masyarakat setempat selalu menggelar acara yang dikenal Rebo Kasan. Terdapat beberapa rangkaian acara ini di antaranya, memanjatkan doa menolak bala secara bersama-sama.

Acara adat istiadat Rebo Kasan dimulai mengumandangkan adzan. Salah satu pemuka agama setempat yakni Sidik mendapat kepercayaan mengumandangkan adzan tersebut. Selanjutnya Zainudin yang juga merupakan tokoh agama dusun setempat melakukan ritual pencelupan air wafat. Air ini seperti air biasanya, namun air sudah didoakan sebelum diminum.

Mendekati acara puncak, masyarakat setempat beserta tamu undangan memanjatkan doa menolak bala. Sebelum doa dibacakan, dua orang diberikan satu jalinan ketupat lepas. Setiap orang memegang masing-masing ujung ketupat. Saat pembacaan doa akan berakhir, dengan instruksi pemuka agama ujung simpul ketupat ditarik lalu jalinan ketupat terurai.

Prosesi puncak ini menandakan masyarakat telah membuang dan menjauhkan bala. Syafitri Staf Ahli Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Bidang SDM, Sosial dan Kemasyarakatan mengapresiasi adat masyarakat Dusun Mudel. Menurutnya, budaya ini telah dilakukan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Hal tersebut membuat adat menjadi tetap bertahan hingga sekarang.

“Adat Rebo Kasan merupakan jembatan penghubung antara masa lampau dengan masa sekarang. Adat ini memiliki nilai budaya luhur yaitu adanya kedekatan manusia dengan Tuhannya. Masyarakat di sini percaya bala, bencana datang dari Allah. Untuk menjaga keselamatan perlu bermunajat berupa salat, membaca Alquran dan berdoa,” kata Syafitri saat mengikuti acara Rebo Kasan, di Dusun Mudel, Rabu (30/11/2016).

Acara Rebo Kasan tak berhenti setelah masyarakat membuka jalinan ketupat lepas. Pasalnya masyarakat sudah menyediakan makanan di dalam dulang tersusun rapi di gedung balai adat dusun. Makan bersama alias ‘Nganggung’ merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat terhadap semua nikmat yang telah dilimpahkan Allah SWT.

Beragam jenis makanan terhidang dalam setiap dulang. Makanan di masing-masing dulang dimakan bersama-sama tanpa melihat derajat atau kedudukan seseorang. Semua melebur, duduk di lantai menikmati beraneka ragam makanan tersebut. Warga yang sebelumnya tidak dikenal bisa saling berkenalan setelah duduk menghadap dulang.

Selain kedekatan manusia dengan Allah, kata Syafitri, acara ini juga menunjukan adanya kedepatan manusia dengan manusia. Jika terdapat malapetaka harus dihadapi secara bersama. Nilai sosial budaya lainnya yakni, menumbuhkan rasa persatuan, kesatuan dan meningkatkan silatuhrahmi dengan sesama. Sebab masyarakat bisa saling kunjung mengunjungi.

Tentunya perlu melestarikan adat istiadat seperti ini. Syafitri menghadapkan agar adat istiadat terus terjaga keberadaannya dengan cara menurunkan dari generasi ke generasi. Pelestarian adat istiadat dapat mendukung dan menjaga nilai-nilai budaya daerah. Ini menjadi bukti keikutsertaan dan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan.

“Pelestarian adat istiadat dapat dijadikan modal sosial dalam membangun daerah dan membangun bangsa. Mudah-mudahan Allah selalu meridoi setiap langkah kita dalam upaya meneruskan pembangunan di Bangka Belitung ini,” ungkapnya.

Sumber: 
Diskominfo Babel
Penulis: 
Rizky Fitrajaya/Huzari
Fotografer: 
Rizky Fitrajaya
Editor: 
Huzari | Adi Tri Saputra