Sistem PPDB SMA Negeri Menggunakan Zonasi, Ini Penjelasannya

PANGKALPINANG -- Hingga saat ini, Selasa (3/7/2018) proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA Negeri sudah berlangsung selama dua hari. Untuk dua hari itu sekolah memprioritaskan PPDB siswa kurang mampu dan pemegang Kartu Indonesia Pintar (KIP). Namun ada perbedaan sistem PPDB tahun ini, pasalnya sekolah telah memberlakukan sistem zonasi.

Wahyudin Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menjelaskan, untuk dua hari ini sekolah memprioritaskan penerimaan siswa kurang mampu dan warga pemegang Kartu Indonesia Pintar (KIP). Sebab aturan mewajibkan pihak sekolah menyediakan minimal 20 persen dari daya tampung. Kemudian pada tanggal 4 sampai 9 Juli dimulai PPDB reguler.

"Tujuan penerapan zonasi ini, mempertimbangkan jarak perjalanan siswa dari domisili ke sekolah. Jangan sampai transportasi siswa terlalu jauh. Selain itu, untuk melakukan pemerataan siswa di setiap sekolah," kata Wahyudin saat dihubungi, Selasa (3/7/2018).

Sebagaimana diketahui, (Permendikbud) Nomor 14 Tahun 2018 tentang PPDB disebutkan yang menjadi kriteria utama dalam penerimaan siswa baru, yakni jarak sesuai dengan ketentuan zonasi. Lebih jauh ia menjelaskan, penetapan geografis zonasi ini diserahkan ke cabang dinas berkoordinasi dengan kepala sekolah masing-masing.

Untuk siswa berbeda zonasi antar kabupaten, kata Wahyudin, nilai SHUN siswa dikalikan 0,7 atau hanya diakui 70 persen. Namun ada pengecualian untuk hal-hal tertentu seperti domisili orangtua pindah. Misalnya semula berdomisili di Kabupaten Bangka Tengah, kemudian pindah ke Kota Pangkalpinang. Selanjutnya anaknya bisa pindah sekolah ke Pangkalpinang tanpa dikalikan 0,7.

Selain itu, jelasnya, jika terjadi bencana alam di tempat calon siswa bersangkutan. Namun untuk kasus ini belum ada di Pangkalpinang dalam artian semua masih normal. Pengecualian lainnya, apabila sekolah asal siswa masih satu zonasi dengan sekolah yang dituju. 

"Contohnya, orangtua berdomisili di Desa Kace, Kabupaten Bangka. Anaknya sekolah di SMPN 5 Pangkalpinang. Jika anak ini ingin melanjutkan sekolah ke SMA harus ke SMA Mendo Barat dan itu jauh. Jadi supaya tidak terlampau jauh, maka anak tersebut bisa masuk ke SMAN 3, karena lebih dekat tanpa harus dikalikan 0,7," papar Wahyudin.

Lebih jauh ia mencontohkan, orangtua tinggal di Desa Terak tapi anaknya sekolah di SMPN 1 Pangkalpinang. Seharusnya kalau anak itu ingin melanjutkan sekolah ke SMA Sungaiselan dan itu terlalu jauh. Sedangkan zonasi  terdekat melanjutkan pendidikan di SMA 3 Pangkalpinang. Hal-hal ini harus menjadi pertimbangan kepala sekolah.

"Selama ini sekolah unggulan berkumpul anak-anak mempunyai nilai ujian tinggi, sebab dari zonasi manapun bisa masuk. Lalu dengan zonasi ini, anak-anak masuk sekolah ke zonasi masing-masing. Selanjutnya akan terjadi pemerataan siswa. Namun tujuan utama zonasi, untuk memperpendek transportasi siswa ke sekolah," tegasnya.

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Huzari