Tanjungpandan Inflasi Sebesar 0,70 Persen

Tanjungpandan – Darwis Sitorus Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menilai kondisi yang terjadi di Pangkalpinang dengan Tanjungpandan cukup unik. Kendati dalam satu wilayah provinsi, namun komoditi penyebab terjadinya inflasi dua daerah ini selalu berbeda. November lalu Kota Tanjungpandan mengalami inflasi sebesar 0,70 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 133,03.

Sudah dua bulan terakhir Tanjungpandan mengalami inflasi. Menurut Darwis, Oktober lalu Tanjungpandan mengalami inflasi sebesar 0,31 persen dengan IHK sebesar 132,11. Inflasi terjadi karena adanya peningkatan harga indeks empat kelompok pengeluaran yakni kelompok bahan makanan sebesar 2,81 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,16 persen.

“Kelompok sandang juga mengalami kenaikan sebesar 0,80 persen dan kelompok kesehatan sebesar 0,76 persen. Sedangkan kelompok yang mengalami penurunan indeks adalah kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,23 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,01 persen dan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar1 68 persen,” kata Darwis, Kamis (1/12/2016)..

Tingkat inflasi tahun kalender November 2016 sebesar 3,98 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun November 2016 terhadap November 2015 sebesar 5,26 persen. Ia menjelaskan, komponen inti pada November 2016 memberikan andil inflasi sebesar 0,22 persen. Demikian juga komponen bergejolak inflasi sebesar 0,62 persen. Sedangkan komponen harganya diatur oleh pemerintah deflasi sebesar 0,14 persen.

Beberapa komoditas mengalami peningkatan harga antara lain,  cabai merah, cabai rawit, kangkung, ikan kerisi, bawang putih, ikan bulat, ketimun, kemeja pendek katun. cumi-cumi, rokok putih, bawang merah, pasta gigi, upah pembantu rumah tangga, kunyit dan udang basah. Sementara komoditas yang mengalami penurunan harga pada November 2016 yaitu angkutan udara, semen, batako, melon, jeruk, apel, wortel, sawi hijau, kentang, kacang panjang. bayam, telur ayam ras, ikan tenggiri, ikan kembung dan daging ayam ras.

lndeks Harga Konsumen (IHK) merupakan salah satu indikator ekonomi yang sering digunakan mengukur tingkat perubahan harga (inflasi/deflasi) di tingkat konsumen, khususnya di daerah perkotaan. Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket komoditas konsumsi rumah tangga. Terhitung Januari Januari 2014, pengukuran inflasi di Indonesia menggunakan IHK tahun dasar 2012=100.

“Ada beberapa perubahan mendasar dalam penghitungan lHK baru (2012=100) dibandingkan lHK lama (2007=100). Khususnya mengenai cakupan wilayah, paket komoditas dan diagram timbang. Perubahan tersebut didasarkan pada Survei Biaya Hidup (SBH) 2012,” jelasnya. 

Sumber: 
Diskominfo Babel
Penulis: 
Rizky Fitrajaya/Huzari
Fotografer: 
Rizky Fitrajaya
Editor: 
Huzari | Adi Tri Saputra