Tekan Inflasi Babel, TPID Perlu Tingkatkan Koordinasi dan Sinergitas

PANGKALPINANG - Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung meningkatkan koordinasi dan sinergitas dengan lembaga lain dan pemerintah kabupaten/kota, guna menekan angka inflasi di daerah yang masih tinggi. Dimana angka inflasi di Babel mencapai 6,75 persen, masih diatas inflasi nasional yang sebesar 3,02 persen.

"Perlu koordinasi dan sinergitas yang lebih baik lagi antara TPID dengan lembaga lain dalam mengendalikan inflasi seperti sinergitas dalam melakukan operasi pasar bersama. Selain itu diperlukan data supply demand komoditas pangan serta adanya edukasi ke masyarakat tentang inflasi " kata Sekda Babel Yan Megawandi saat membuka Rapat Koordinasi TPID Dalam Pengendalian Inflasi di Ruang Tanjung Pesona Kantor Gubernur di Pangkalpinang, Kamis (30/03/2017).

Ia menjelaskan kegiatan rakor ini untuk membahas dan mencari solusi masalah terkait masih tingginya tingkat inflasi di Babel. Menurut data, Inflasi di Babel pada Januari 2017 mencapai 1,72 persen, sedangkan Februari 2017 justru mengalami deflasi sebesar 0,82 persen.

"Kami berharap kegiatan ini dapat mengatasi kenaikan inflasi tinggi di tahun 2016 yang mencapai 6,75 persen dan tren inflasi di Babel, dimana kontribusi inflasi sebesar 2,44 adalah dipengaruhi oleh angka komponen transportasi udara, terutama tingginya harga tiket pesawat terbang," ujarnya.

Ia mengatakan dalam menekan inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga angkutan udara, TPID akan melakukan koordinasi dengan pihak maskapai penerbangan dan kementerian perhubungan sehingga dapat menekan inflasi karena faktor ini, khusunya Kota Pangkalpinang. Selain transportasi,  harga cabai yang sempat naik juga menjadi perhatian karena ikut mempengaruhi inflasi di Babel.

"TPID akan melakukan analisa supply demand komoditas pangan dan akan merekomendasi kerjasama antara pemerintah daerah dengan KPPU. Karena tata niaga pasar itu sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi masyarakat," ujarnya.

Yan menambahkan, bahwa selama ini pemenuhan kebutuhan pangan di Babel masih mengandalkan pasokan dari luar. Untuk itu perlu dilakukan pola penjajakan Kerjasama Antar Daerah (KAD). Hal ini agar daerah mengetahui pasokan pangan dari daerah mana saja yang harganya lebih murah.

"TPID akan melakukan kerjasama antar daerah (KAD) untuk pasokan komoditas pangan, mengaktifkan kembali forum data dan babel satu data agar kita memiliki data yang akurat, sehingga TPID dapat mengambil kebijakan efektif agar dapat menurunkan inflasi sehingga tidak memberatkan perekonomian masyarakat," tambahnya.

Sementara itu, Bayu Martanto Kepala BI Babel mengatakan bahwa kondisi inflasi di Babel masih tinggi. Namun volatilitas inflasi di Babel memiliki kencenderungan menurun dalam tiga tahun terakhir, yaitu 2,38 tahun 2014, 1,19 tahun 2015, dan 1,13 pada tahun 2016.

"Angka inflasi pada Desember 2016 menurun karena ada penurunan harga tiket penerbangan," ujarnya.

Bayu juga menambahkan bahwa selama ini belum memiliki data-data supply demand komoditas. Untuk itu diperlukan adanya data dan kerjasama dengan lembaga agar didapat data tentang kebutuhan pangan. Data komoditas bisa mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Kalau data berbeda akan terjadi distorsi harga.

"Mari saling perkuat dan bersinergi untuk menginput dan mengumpulkan data. Jika daerah ada pasar pertanian, pemda bisa memantau data pasokannya berapa. Cek harga pangan juga dapat dilakukan di website pusat informasi harga pangan strategis nasional (PIHPS Nasional)," tutup Bayu.

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Surianto/Adi Tri Saputra
Fotografer: 
Adi Tri Saputra/Surianto
Editor: 
Suci Lestari