Warga Bertanya Harga Komoditi Perkebunan, Ini Jawab Gubernur Erzaldi

PENAGAN, BANGKA -- Kendati sibuk menjalani aktivitas sebagai kepala daerah, namun Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Erzaldi Rosman tetap meluangkan waktu berkumpul bersama masyarakat. Kali ini,  Gubernur Erzaldi melakukan kegiatan Safari Jumat di Masjid Al Huda, Desa Penagan, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka.

Sedikitnya tiga persoalan ditanyakan warga saat dialog usai Safari Jumat kali ini. Tiga persoalan tersebut yakni mengenai harga komoditi karet, sawit dan sahang (lada) yang mengalami penurunan. Namun Gubernur Erzaldi menegaskan ada lagi satu komoditi perkebunan yang menjadi perhatian pemerintah yakni komoditi ubi (singkong).

"Sebenarnya ada empat komoditi menjadi perhatian pemerintah selain karet, sawit dan lada. Komoditi keempat ini yaitu ubi, namun harga komoditi ubi sudah mulai membaik. Hal ini dikarenakan sudah ada pabrik yang terus beroperasi di Bangka Belitung," kata Gubernur Erzaldi, Jumat (14/9/2018)

Mengenai harga karet, jelas Gubernur Erzaldi, selain Indonesia terdapat negara lain yang juga penghasil komoditi perkebunan karet. Sejumlah negara tersebut di antaranya, Cina Malaysia dan Brazil. Sementara industri pengguna karet berkurang, karena banyak menggunakan plastik dan bahan lain yang lebih ramah lingkungan. 

Sedangkan mengenai komoditi sawit, menurut Gubernur Erzaldi, sudah empat tahun lalu pemerintah melakukan moratorium perkebunan sawit. Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya produksi berlebih dari perkebunan sawit. Pasalnya sekarang ini produksi perkebunan sawit sudah melebihi kapasitas produksi pabrik.

"Hal ini membuat pabrik tidak mampu lagi menampung hasil perkebunan sawit masyarakat. Sebab selain produksi perkebunan masyarakat, pengusaha pabrik sawit ini juga mempunyai perkebunan sendiri. Karena banyak barang, sehingga pabrik memproduksi sawit dari perkebunan sendiri," jelas Gubernur Erzaldi.

Pelbagai upaya dilakukan pemerintah guna meningkatkan harga sawit. Salah satu di antaranya, mendorong pembangunan pabrik. Sementara ini sudah ada tiga investor yang akan melakukan pembangunan pabrik sawit. Selain itu, pemerintah provinsi juga berencana membangun pabrik melalui BUMD. 

Mengenai lokasi pembangunan pabrik, kata Gubernur Erzaldi, akan melihat potensi hasil perkebunan di suatu daerah. Pabrik yang akan dibangun tersebut mempunyai kapasitas produksi sekitar 30 ton per jam. Jika pabrik ini beroperasi selama 20 jam sehari, sehingga membutuhkan cukup banyak hasil perkebunan sawit.

"Jika pabrik dibangun, maka produksi perkebunan masyarakat harus dapat dapat mengimbangi hasil produksi pabrik. Jadi perlu pendataan jumlah hasil sawit di suatu daerah, terutama yang dekat dengan lokasi pembangunan pabrik. Untuk membangun pabrik, minimal membutuhkan waktu sekitar satu tahun dua bulan," papar Gubernur Erzaldi.

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Huzari
Fotografer: 
Adi Tri Saputra