65 Pejabat Pemprov Revolusi Mental

Subang – Sebanyak 65 pejabat di lingkungan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengikuti Diklat Revolusi Mental. Sejumlah pejabat tersebut terdiri dari 18 orang eselon dua dan 47 orang sisanya merupakan eselon tiga. Guru besar di berbagai bidang hingga perwira tinggi bakal menyampaikan materi revolusi mental.

Ermaya Suradinata Ketua Dewan Pembina Kampus Pembangunan Karakter Bangsa Indonesia mengatakan, Presiden RI Joko Widodo dan Megawati (mantan Presiden RI-red) menginginkan agar kampus revolusi mental berfungsi seperti harapan Pemerintah Republik Indonesia. Kampus ini bekerja sama dengan lembaga ketahanan RI, perguruan tinggi dan kedinasan.

Terdapat beberapa guru besar akan mengisi materi, terutama guru besar bidang pemerintahan, pembangunan, keuangan serta perwira tinggi. Revolusi mental bukan hal baru, sebab revolusi mental sudah ada sejak tahun 1948, 1955, 1965 ketika Bung Karno menggelorakan perlunya revolusi mental menghadapi mekanisme perekonomian global.

“Kampus Revolusi Mental sudah dipersiapkan sebelum Joko Widodo menjadi presiden,” ujarnya saat menjadi  Pembina Upacara Pembukaan Diklat Revolusi Mental, Minggu (26/4/2015).

Upacara Pembukaan Diklat Revolusi Mental digelar di lapangan upacara nusantara, Kampus Pembangunan Karakter Bangsa Indonesia, Subang Provinsi Jawa Barat sekitar pukul 17.01 WIB. Ermaya mengatakan, revolusi mental merupakan suatu pembaharuan, dan terus berlanjut secara berkesinambungan di dalam hati setiap diri manusia.

“Sehingga manusia mengalami perubahan yang bermanfaat bagi kehidupannya, bagi organisasi, bangsa dan negara. Bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki jiwa besar, bangsa yang besar memiliki revolusi mental,” ungkapnya menirukan seruan Bung Karno.

Menanamkan revolusi mental merupakan kewajiban bersama. Ia menambahkan, Bung Karno seorang proklamator, dan proklamasi hanya sekali dibacakan Proklamator. Tak akan ada lagi proklamator dalam kehidupan bangsa Indonesia, cukup sekali kemerdekaan untuk selamanya.

“Inilah semboyan revolusi mental yang ditanamkan. Ini harus ditanam dalam jiwa semangat aparatur sipil negara,” kata Ermaya.

Lebih jauh ia menjelaskan, perlu menanamkan jiwa dan menumbuh kembangkan inovasi baru dalam bekerja. Inovasi baru memberikan semangat dalam jabatan apapun, tentu dengan semangat loyalitas. Sebab pimpinan terus memperhatikan kualitas aparatur sipil negara.

Kualitas itu, jelasnya, pertama meningkatkan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kedua, bekerja di dalam jiwa yang iklhas melakukannya. Ketiga, menjunjung tinggi kejujuran dalam bekerja.

"Ini semua bisa diterima sebagai bagian proses revolusi mental," harapnya

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Adi Tri Saputra
Fotografer: 
Rizky
Editor: 
Huzari