Cegah Ledakan Penduduk di Babel

Cupat – Disinyalir terdapat dua penyebab peningkatan angka kelahiran yang dapat membuat terjadi ledakan penduduk di Bangka Belitung. Pertama, pasangan usia subur (PUS) peserta KB masih didominasi kelompok umur 40 tahun ke atas. Sementara kelompok tersebut sudah mempunyai anak lebih dari dua orang. Kedua, hanya sekitar tujuh persen PUS menggunakan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP).

Syafitri Staf Ahli Bidang SDM dan Pemasyarakatan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menjelaskan, perlu menurunkan Total Fertility Rate (TFR) dari 2,6 menjadi 2,39 di tahun 2014 ini. Caranya, menaikan Contraceptive Prevalence Rate (CPR) dengan cara modern dari 65,3 persen menjadi 65,5 persen. Selain itu meningkatkan PUS yang menggunakan MKJP dari tujuh persen menjadi 18,8 persen, utamanya PUS kelompok umur 15 sampai 39 tahun.

“TNI, Ikatan Bidan Indonesia, tim penggerak PKK, Polri dan mitra kerja lainnya telah menunjukan kontribusinya dalam upaya meningkat pencapaian program kependudukan keluarga berencana dan pembangunan keluarga,” jelasnya saat acara Fasilitasi KB Muspida di Desa Cupat, Kecamatan Parit Tiga, Kabupaten Bangka Barat, Kamis (25/9/2014).

Safari KB Muspida telah dilakukan tahun 2008 dan 2013 lalu. Ia menambahkan, kali ini merupakan tahun ketiga pelaksanaan kegiatan safari KB Muspida. Kegiatan ini dilaksanakan selama dua bulan yakni Agustus dan September. Dengan digelarnya kegiatan ini diharapkan unsur Muspida yang kini disebut Forum Koordinasi Pimpinan Daerah dapat ikut mempromosikan program kependudukan, KB dan pembangunan keluarga.

Sasaran kegiatan, jelasnya, staf di kantor masing-masing dan masyarakat, khususnya PUS kelompok umur 15 hingga 39 tahun. Sehingga terdapat pemahaman dan pengetahuan mengenai pentingnya keluarga berencana dalam mewujudkan keluarga kecil bahagia. Selain itu, dilanjutnya dengan pelayanan KB khususnya metode kontrasepsi jangka panjang seperti IUD, medis operatif wanita, medis operatif pria dan pemasangan implant.

Berdasarkan hasil survei sensus tahun 2010, struktur penduduk Indonesia sangat tidak menguntungkan. Ia menjelaskan, ini dikarenakan jumlah penduduk usia remaja cukup banyak. Jika sejumlah remaja menikah usia muda, hamil dan melahirkan dengan tidak terencana, tentunya akan menjadi tantangan berat di masa mendatang.

“Saya imbau agar anak-anak tidak menikah di usia muda. Rencanakan kehamilan dan kelahiran. Sehingga kita dapat mencegah terjadi ledakan penduduk di Bumi Serumpun Sebalai yang kita cintai ini,” harapnya.

Pertumbuhan penduduk yang tinggi dapat membebani pemerintah dalam penyedian pangan, perumahan, sarana kesehatan, pendidikan dan lapangan kerja. Untuk itu, tegasnya, perlu menggalakkan program kependudukan, KB dan pembangunan keluarga. Sebab, selain dapat mengendalikan laju pertumbuhan penduduk, juga dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

“Seluruh keluarga harus ikut memperjuangkan agar tercipta generasi sehat, cerdas dan berkualitas,” harapnya.

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Fajrina
Fotografer: 
Suci Lestari | Fajrina
Editor: 
Huzari