DIVERSIFIKASI RAGAM PANGAN MASYARAKAT BANGKA SELATAN DALAM KAMPANYE SABUK AMANG

Pangkalpinang - Kreatifitas masyarakat Bangka Selatan terlihat saat mengimplementasikan diversifikasi pangan bahan makanan alami dalam Kampanye Diversifikasi Pangan melalui Pergub No 30 Tahun 2018 tentang Gerakan Gemar Makan Sayur, Buah, Umbi-umbian, Kacang-kacangan, dan Ayam Merawang. Kegiatan bertempat di Pantai Kelisut Toboali Bangka Selatan, Selasa (22/10/2019).

Ibu-ibu yang tergabung dalam KWT (Kelompok Wanita Tani) membuat beragam makanan kreatif dengan tampilan menarik melalui bahan-bahan yang berbeda dari biasanya. Dari bahan tepung singkong, ikan dan sayuran tercipta empek-empek aneka warna. Ada pula empek-empek dari campuran ikan, sagu dan terong. Selain itu, kulit pisang yang biasa kita buang begitu saja dapat menjelma menjadi kue brownis coklat.

Pantiaw, tekwan, bergo, yang notabene makanan khas Bangka Belitung dibuat cantik dengan menggunakan bahan ubi ungu. Belum lagi kreasi minuman dari berbagai bahan-bahan alami. Untuk rasa, jangan ditanya. Kombinasi makanan dan minuman ini sangat lezat. Semua bahan-bahan diperoleh dari hasil KRPL (Kawasan Rumah Pangan Lestari).

Acara yang menunjukkan khasanah kekayaan hasil bumi Bangka Selatan khususnya dan Bangka Belitung umumnya ini belum sejalan dengan Pola Pangan Harapan (PPH) standar nasional yang idealnya adalah 100. Sedangkan PPH masyarakat Bangka Belitung baru mencapai 81,7.

Hal ini disebabkan pola konsumsi pangan masyarakat yang belum B2SA (beragam, bergizi, seimbang dan aman). Pada intinya, masyarakat Bangka Belitung belum terbiasa mengonsumsi sayur, buah, umbi dan kacang. Hal ini seperti yang diungkapkan Ahmad Damiri, Kepala Dinas Pangan Provinsi sekaligus yang mewakili Gubernur Kepulauan Bangka Belitung dalam sambutannya.

“Untuk menciptakan SDM yang berkualitas kita harus memperbaiki pola makan kita. Hal ini untuk mencegah stunting. Sedangkan Bangka Selatan termasuk juga Bangka Belitung PPH-nya belum mencapai standar nasional yakni 100,” ungkap Damiri.

“Hal ini dapat diuji salah satunya dari kemampuan ibu rumah tangga ketika di beri uang oleh suami. Apakah uang tersebut digunakan untuk memasak sendiri atau beli di luar. Sedangkan kebanyakan di kota orang terbiasa membeli. Budaya di rumah tangga inilah menjadi penentu SDM ke depan,”lanjutnya.

“Kemudian faktor lainnya adalah ketidakmampuan daya beli masyarakat dalam mengasup makanan yang cukup gizi dan seimbang. Ini faktor lainnya dan menjadi masalah kita,” tutup Damiri.

Dalam menyikapi permasalahan di atas, pemerintah Kabupaten dan Provinsi kedepannya membantu masyarakat dengan menyediakan beragam pangan murah dan sudah dianggarkan. Tujuannya tidak lain untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat kurang mampu. Harapan pemerintah salah satunya melalui optimalisasi kegiatan-kegiatan KWT.

Terutama dalam memanfaatkan lahan pekarangan dengan menanam setidaknya satu pohon seperti pepaya sebagai wujud dari Pergub No 30 Tahun 2018. Hal ini didukung oleh Bupati Bangka Selatan yang menganjurkan untuk kembali ke masa lalu dengan terbiasa makan umbi-umbian yang mulai dilupakan masyarakat.

Kegiatan dimeriahkan dengan doorprize dan pembagian Kalender ini dihadiri oleh orang nomor satu di Kabupaten Bangka Selatan, OPD di lingkungan Pemkab Bangka Selatan, Ketua DPRD, Camat, Lurah, TP PKK dan Ibu-ibu KWT Kawasan Rumah Pangan Lestari Bangka Selatan serta anak-anak dari SDN 1 Bangka Selatan.

Sumber: 
Dinas Pangan Babel
Penulis: 
Dini