Dulmuluk Butuh Perhatian Pemerintah

Pangkalpinang – Banyak jenis pementasan seni budaya di Bangka Belitung, salah satunya pementasan dulmuluk. Namun untuk membangkitkan seni budaya ini sangat diperlukan sekali campur tangan pemerintah. Efek positif membangkitkan pementasan dulmuluk yaitu, selain dapat mempertahankan seni budaya yang ada, pemerintah juga dapat memanfaatkan dulmuluk sebagai wadah melakukan kegiatan sosialisasi.

Hj Septriana Tangkary, Kepala Puslitbang Aptika IKP Kementerian Komunikasi dan Informatika menjelaskan, pemerintah dapat memperkuat keberadaan seni budaya tradisional seperti dulmuluk dengan cara membuat perda yang mengatur mengenai kelestarian seni budaya tersebut. Ini penting, contohnya salah satu manfaat pementasan dulmuluk yang ada di Bangka Belitung dapat dijadikan sebagai sarana sosialisasi segala kegiatan yang dijalankan pemerintah.

Kedekatan psikologis dalam melakukan sosialisasi sangat penting. “Biasanya masyarakat cukup peduli dengan kegiatan sosialisasi yang disampaikan pemerintah, jika pesan tersebut disampaikan dengan menggunakan bahasa daerah. Dulmuluk merupakan pementasan yang menggunakan bahasa daerah, jadi ini dapat menjadi strategi yang baik untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat,” jelas Septriana saat kegiatan Focus Group Discussion (FGD) di Hotel Bangka City, Selasa (9/4/2013).

Sebanyak tiga pemateri hadir dalam kegiatan ini di antaranya, H KA Tajuddin Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Saad Toyib dari Dewan Kesenian Kota Pangkalpinang dan Ibrahim dari akademisi Universitas Bangka Belitung. Salah satu tujuan pelaksanaan kegiatan ini, untuk mengetahui sejauhmana keefektivan pertunjukan rakyat dalam transpormasi informasi publik.

Hal senada disampaikan H KA Tajuddin. Ia menambahkan, dalam pementasan rakyat seperti dulmuluk dapat disisipkan informasi untuk diketahui masyarakat. Jadi selain menghibur, pementasan ini juga memberikan wawasan kepada masyarakat. Namun ketika penyampaikan informasi harus disesuaikan dengan situasi masyarakat. Intinya informasi yang disampaikan merupakan informasi yang sedang trend, dengan begitu masyarakat akan lebih mudah menyerap informasi yang ingin disampaikan.

Tak hanya itu. Dikatakannya, perlu juga memperhatikan durasi dan tempat pementasan. Dalam hal ini, durasi pementasan jangan terlalu lama dan ada baiknya dilaksanakan malam hari. Sedangkan mengenai tempat digelarnya pementasan harus strategis dan kondusif. “Jika dalam pementasan memperhatikan beberapa faktor ini, informasi yang ingin disampaikan dapat diserap masyarakat,” ungkapnya.

Sementara Saad menjelaskan mengenai awal adanya pementasan dulmuluk. Menurutnya, dulu ada orang yang bernama Abdul Muluk. Orang ini karapkali berceloteh dan celoteh tersebut disenangi masyarakat. Lalu seiring perkembangan, munculnya pementasan dengan gaya berceloteh, dan pementasan ini dinamai dulmuluk. Dalam pengembangan dulmuluk ini memang tidak mudah, karena rata-rata pemain pertunjukan rakyat ini merupakan orang-orang yang mempunyai kerja serabutan. Jadi tokoh-tokoh yang ada tidak fokus menekuni seni budaya pementasan rakyat dulmuluk.

Selain itu, ungkapnya, ada kesulitan dalam pengembangan peralatan pementasan dulmuluk karena keterbatasan dana. Untuk itulah perlu campur tangan pemerintah. “Modernisasi juga menjadi salah satu kurang eksistensi pementasan dulmuluk. Sebab jika ada acara, orang lebih suka menyewa organ tunggal daripada menampilkan pementasan dulmuluk ini,” tegasnya.(hzr/fa)

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Huzari | Fajrina Andini