Endan : “Dalam Menulis Jurnal, Hindari Plagiarisme!

 
Pangkalpinang - Rangkaian acara Pendidikan dan Pelatihan Karya Tulis Ilmiah (KTI) untuk Jabatan Fungsional Tertentu Pegawai Aparatur Sipil Negara Pemerintah Provinsi  Bangka Belitung yang diselenggarakan Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BKPSDMD) Provinsi Bangka Belitung resmi ditutup pada sore hari ke-4, Jumat (15/03), yang mana pelaksanaan diklat tersebut berlangsung selama 4 (empat) hari yang dimulai dari tanggal 12 – 15 Maret 2019.
 
Pada Diklat KTI ini pihak penyelenggara mengundang Narasumber tunggal  dari  BPDSDM Provinsi Banten, Endan Suwandana, ST, M.Sc., Ph.D yang mengupas secara tuntas dan menyajikan fakta umum yang dapat dibuktikan kebenarannya secara ilmiah dan ditulis dengan metodologi yang tepat.
 
Dalam mengikuti diklat ini diharapkan peserta memahami cara untuk mengembangkan narasi, menuliskan hasil, mendiskusikan hasil (melakukan pembahasan), dan yang paling utama penulis dapat menghindari plagiarism.
 
“Plagiarism itu dilakukan karena dua hal, yaitu karena unsur kesengajaan (by intention) dan karena ketidaktahuan.
 
Plagiariame karena kesengajaan terjadi karena sifat manusia yg ingin serba instan, pragmatisme, ketidakjujuran, dan menganggap KTI itu sesuatu yg sulit, sedangkan plagiarisme karena ketidaktahuan terjadi karena kemalasan untuk belajar” jelas Endan.
 
Maka kedua hal itu bisa diselesaikan melalui diklat KTI. Diklat ini mengajarkan bahwa menulis KTI itu tidaklah sulit, bahkan bisa menjadi hobby jika tips dan triknya dikuasai, lanjutnya.
 
Banyak teori yang disampaikan Narasumber  sampai tahap test dan praktek membuat jurnal yang berhubungan dengan instansi terkait.
 
Sebelumnya, pada acara pembukaan Diklat KTI ini, Selasa (12/3), Sekretaris BKPSDM Bangka Belitung, Umi Kalsum, S.Pd, M.Si memaparkan dalam sambutannya bahwa kewajiban untuk melakukan penyusunan KTI bagi JFT tertuang dalam peraturan-peraturan yang terkait degan amsing-masing JFT tersebut.
 
“Setiap JFT diwajibkan untuk menyusun KTI sebagai salah satu syarat untuk pengajuan kenaikan pangkat / jabatan. Seorang JFT yang tidak dapat menunjukkan hasil KTI- nya, selain JFT tersebut tidak berkompeten dalam menyebarkan ilmunya, tetapi yang bersangkutan akan kesulitan dalam pengajuan kenaikan pangkat / jabatan.” jelas Umi Kalsum berpanjang lebar. 
 
Diakhir sesi materi, Endan memberikan reward kepada beberapa peserta yang berhasil meng-submit hasil jurnalnya ke aplikasi yang sudah tersedia.
 
Tujuan pemberian reward ini dimaksudkan untuk memacu semangat peserta agar lebih terlatih dalam membuat jurnal. 
 
Dan harapan beliau, ilmu yang diperoleh dapat diajarkan kepada pihak-pihak yang mempunyai tugas dan fungsi yang sama, yang belum berkesempatan mengenyam pendidikan dan pelatihan KTI.
 
“Semoga apa yang menjadi materi kita dalam diklat KTI ini, dapat bermanfaat dan di implementasikan dalam rutinitas pekerjaan bapak ibu di instansi masing-masing. Harapan saya  bapak ibu tidak sungkan untuk berbagi ilmu kepada teman-teman yang mempunyai tupoksi yang sama yang belum sempat mengikuti diklat KTI seperti bapak ibu,” pungkasnya.
 
Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Reni Pebrianti ( Pranata Humas DKP)
Fotografer: 
Reni Pebrianti ( Pranata Humas DKP)
Editor: 
Fitra