Gelar Pelatihan Industri Pangan Tingkatkan Kemampuan Pelaku Usaha Lokal

LUBUK LINGKUK - Sulitnya bersaing dalam upaya memasarkan nasi aruk menjadi keluh kesah Miyana selaku pelaku usaha rumahan dari Desa Lubuk Lingkuk, Kabupaten Bangka Tengah. 

Hal ini disampaikan pada sesi diskusi saat Pelatihan Pengembangan Industri Pangan Lokal (PIPL) 1000 di Desa Lubuk Lingkuk, Kamis (17/9/20).

Miyana merupakan seorang pelaku usaha beras aruk yang diproduksi dan dipasarkan dengan cara tradisional menggunakan bahan-bahan alami. Hal ini menyebabkan biaya produksi dan harga jual beras aruk menjadi lebih mahal jika dibandingkan dengan harga beras pada umumnya. 

Selain itu, mengolah beras aruk juga membutuhkan proses yang panjang karena masih menggunakan tangan tanpa mesin. Kondisi ini membuat pengusaha beras aruk kesulitan untuk berproduksi dalam jumlah besar.

Padahal, Bangka Tengah terkenal akan hasil singkong yang melimpah sebagai bahan baku pembuatan beras aruk. Beras aruk sendiri merupakan sumber karbohidrat nonberas yang ramah dikonsumsi terutama oleh penderita diabetes.

Pelaku usaha di Bangka Belitung banyak yang berkreasi dengan memproduksi olahan pangan lokal berkualitas, aman, dan bergizi. Soal rasa tak usah ditanya. Akan tetapi, usaha ini seringkali terkendala pemasaran, kemasan, perijinan, dan lain sebagainya. Sehingga produk pangan lokal sulit untuk bersaing secara luas.

Pelaku usaha berharap mendapat dukungan dari pemerintah atau badan usaha untuk memasarkan produk yang mereka hasilkan agar tidak lagi dipusingkan dengan masalah pemasaran.

Untuk itu, Dinas Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) memfasilitasi usaha kecil menengah dengan sasaran ibu-ibu KWT mandiri dan pelaku usaha di lima kabupaten dengan menggelar Pelatihan Pengembangan Industri Pangan Lokal (PIPL) 1.000, 15–18 September 2020. 

Dengan menggandeng narasumber dari Disperindag Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Dinas Pangan berharap pelaku usaha dan ibu-ibu KWT mandiri mendapat ilmu untuk meningkatkan produksi olahan pangan lokal secara maksimal dan perijinan yang lengkap.

Pelatihan ini dihadiri oleh KWT Lorong Hijau Desa Lubuk Besar, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), dan tim dari Dinas Pangan Kabupaten Bangka.

Dalam kesempatan ini, narasumber Selani, memberikan solusi terkait permasalan-permasalahan yang dihadapi pelaku usaha rumahan dalam memasarkan produk. Terutama kepiawaian dasar dalam melihat produk dan pasarnya, karena produk yang dihasilkan harus bertemu dengan pasar yang tepat guna memaksimalkan penjualan produk.

“Untuk permasalahan alat produksi, Disperindag provinsi bisa membantu dengan fasilitasi program restrukturisasi mesin. Bantuan peralatan yang syaratnya harus tergabung dalam koperasi berbadan hukum minimal tiga tahun. Kemudian, mengikuti program pembinaan dan pelatihan dengan narasumber langsung dari pusat,” ungkapnya. 

“Sedangkan masalah pemasaran produk, pemerintah menggalakan sistem pemasaran secara online, serta rajin mengikuti pameran-pameran di luar kota,” ujarnya.

Selani juga menjelaskan cara memproduksi olahan pangan lokal dengan waktu yang lebih singkat, biaya produksi lebih murah, kemasan menarik, dan perizinan yang lengkap.

Sumber: 
Dinas Ketahanan Pangan
Penulis: 
Dini
Fotografer: 
Dini
Editor: 
Listya