Gubernur: Jembatan Baturusa II Ikon Bangka Belitung

Pangkalpinang – Setelah diresmikan Oktober nanti, Jembatan Baturusa II diharapkan dapat menjadi ikon Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Jembatan megah tersebut membentang menghubungkan Kelurahan Ketapang, Pangkalpinang menuju ke Desa Air Anyer, Merawang. Selain menjadi ikon, jembatan ini dibangun untuk meningkatkan aksesibilitas dua daerah.

Rustam Effendi Gubernur Kepulauan Bangka Belitung mengatakan, walaupun harus melalui waktu pengerjaan yang begitu panjang, namun hasil akhir bisa menyelesaikan pembangunan jembatan tersebut. Jembatan ini dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sarana memperpendek jarak dari Kota Pangkalpinang menuju Sungailiat, Kabupaten Bangka.

“Mungkin nanti jembatan ini juga menjadi bagian tidak terpisahkan untuk memperpendek jarak menuju lokasi kawasan khusus pariwisata di Tuing. Sudah kita paparkan, terdapat lahan sekitar 1337 hektare untuk pengembangan sektor pariwisata tersebut,” kata Gubernur di sela-sela kegiatan peninjauan Jembatan Baturusa II, di Kelurahan Ketapang, Pangkalbalam, Senin (5/9/2016).

Lebih jauh ia menjelaskan, untuk mengembangkan kawasan khusus pariwisata Tuing sudah dipaparkan di depan Menteri Pariwisata. Terdapat tiga syarat bagi suatu daerah untuk dapat ditetapkan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pariwisata. Sejumlah syarat tersebut di antaranya, pertama atraktif –mempunyai daya tarik–, kedua aksesibilitas jarak tempuh kurang dari satu jam.

Sedangkan syarat ketiga, jelasnya, harus masuk kawasan pembangunan pariwisata nasional (KPPN). Tiga syarat itu sudah dapat dipenuhi, sehingga Menteri Pariwisata menyanggupi dan memungkinkan kawasan tersebut diusulkan sebagai KEK pariwisata. Tak hanya itu, sebab ada kabupaten lain yang juga menjadi pertimbangan agar menjadi KEK pariwisata.

“Kabupaten Bangka Barat ingin kita usulkan menjadi KEK pariwisata. Kabupaten ini sudah mempunyai lahan sekitar 777 hektare, dan ini sudah melebihi yang ditetapkan yaitu sekitar 350 hektare. Sedangkan dari sisi KPPN terpenuhi, namun dari sisi aksesibilitas harus ditempuh selama dua jam. Sedangkan ketentuannya tidak boleh lebih dari satu jam –dari bandara–,” paparnya.

Kendati demikian, kata Gubernur, jika pembangunan jembatan Teluk Kelabat, Belinyu, Kabupaten Bangka menuju Bakit, Kabupaten Bangka Barat bisa segera terealisasi dapat memperpendek jarak tempuh. Kalau semula jarak tempuh membutuhkan waktu lebih dari dua jam, namun dengan adanya jembatan itu hanya membutuhkan waktu kurang dari satu jam.

Berdasarkan gambaran ini, Gubernur optimis Kabupaten Bangka Barat juga bisa ditetapkan menjadi KEK pariwisata. Ia menambahkan, bulan ini usulan kawasan KEK pariwisata sudah harus masuk ke dewan ekonomi nasional. Diharapkan sekitar bulan Desember sudah ada kepastian mengenai pengembangan kawasan.

“Kita serius memperhatikan sektor unggulan pariwisata. Ini sebagai salah satu sektor pengganti sektor pertambangan. Ada potensi pariwisata di Kabupaten Bangka Tengah, namun kabupaten ini tidak memberikan usulkan. Untuk di Bangka kita menekankan wisata kultur dan haritage. Banyak budaya kita rayakan, seperti perang ketupat dan mandi belimau,” ungkapnya.

 

Sumber: 
Diskominfo Babel
Penulis: 
Rizky Fitrajaya/Huzari
Fotografer: 
Rizky Fitrajaya
Editor: 
Huzari | Adi Tri Saputra