Gubernur: Keluarga Pembentukan Karakter Bangsa

Manggar – Pembentukan karakter bangsa dimulai dari keluarga. Agar karakter generasi penerus terbentuk dengan baik, hendaknya merencanakan kehidupan berkeluarga dengan cukup mempunyai dua anak. Tak hanya itu, sebab perlu juga memperhatikan faktor pendapatan dan pengeluaran keluarga. Jangan ikuti pendapat usang banyak anak banyak rezeki atau makan tidak makan kumpul.

Demikian ditegaskan Rustam Effendi Gubernur Kepulauan Bangka Belitung saat Peringatan Hari Keluarga ke XXIII Tingkat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, di Pantai Nyiur Melambai, Manggar, Kabupaten Belitung Timur, Rabu (31/8/2016).  Peringatan kali ini mengusung tema “Hari Keluarga Merupakan Momentum Upaya Membangun Karakter Bangsa Mewujudkan Indonesia Sejahtera”.

Seiring waktu dan perkembangan zaman, jelas Gubernur, keluarga kecil menjadi salah satu jalan agar dapat memberikan pendidikan yang baik kepada anak. Selain itu, kesehatan anak juga akan lebih terjaga. Jika semua itu terwujud, generasi muda bisa tumbuh dan mempunyai daya saing. Jadikan momentum ini sebagai pemicu bagi keluarga untuk mencapai kesejahteraan.

“Untuk mendapatkan pekerjaan sudah sulit, oleh sebab itu anak-anak harus mendapatkan bekal yang baik. Anak-anak di Bangka Belitung harus mampu bersaing di era globalisasi ini. Jangan serahkan secara penuh kepada sekolah untuk mendidik anak. Sebab peran keluarga sangat penting! Lakukan secara berkesinambungan menjalin komunikasi antara orangtua dan anak,” sarannya.

Gubernur juga mengimbau agar orangtua bisa memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anak. Jangan biarkan anak-anak salah ketika menentukan langkah dan ikut pergaulan tidak baik. Sudah cukup banyak remaja terlibat kasus-kasus narkoba dan sekitar Rp3 triliun dana dibelanjakan narkoba. Untuk itu, pertumbuhan anak harus menjadi perhatian orangtua.

“Perhatikan kesehatan anak-anak kita. Sebab jika sehat dapat meningkatkan produktivitas anak-anak tersebut. Generasi penerus merupakan generasi yang mempunyai tanggung jawab terhadap peningkatan pertumbuhan perekonomian ke depan,” ungkapnya.

Hal senada dikatakan Mieke Selfia Sangian Inspektur Utama BKKBN Pusat. Menurutnya, saat ini banyak anggota keluarga disibukkan dengan kegiatan masing-masing. Ketika berkumpulpun, tetap asyik sendiri dengan smartphone. Sehingga mengakibatkan kurang interaksi antara orangtua dan anak-anak. Tak hanya itu, sebab masih banyak ditemukan keluarga yang kurang diberdayakan.

Seharusnya, kata Mieke, antara anggota keluarga saling mengasihi dan berbagi. Melihat hasil sensus penduduk tahun 2010, tercatat jumlah penduduk mencapai angka 237,6 juta jiwa atau tumbuh sekitar 1,49 persen. Berdasarkan angka tersebut, terjadi penambahan jumlah penduduk di Indonesia sebanyak tiga hingga empat juta jiwa per tahun.

“Kondisi pertumbuhan itu sama dengan jumlah penduduk negara Singapura. Jumlah penduduk yang banyak sebagai modal dasar pembangunan, namun jika penduduk itu tidak berkualitas akan kalah bersaing di era masyarakat ekonomi asean. Apalagi tahun 2020 sampai 2035, Indonesia menyambut bonus demografi,” paparnya.

Rentang waktu 2020 hingga 2035 tersebut, kata Mieke, masyarakat usia produktif akan menanggung masyarakat non produktif seperti balita dan lansia. Kondisi itu diperparah dengan data rata-rata seorang ibu diusia produktif bermukim di daerah tertinggal, terpencil dan perbatasan melahirkan anak lima sampai sepuluh orang. Jika anak-anak tersebut sakit tidak berobat ke puskesmas.

“Anak-anak itu juga tidak menikmati pendidikan. Persoalan lain di Indonesia yaitu, terjadi pernikahan diusia muda atau usia 15 tahun sudah menikah. Pertumbuhan penduduk cepat, karena setelah menikah langsung hamil,” jelasnya.

Sumber: 
Diskominfo Babel
Penulis: 
Rizky Fitrajaya/Huzari
Fotografer: 
Rizky Fitrajaya
Editor: 
Huzari | Adi Tri Saputra