Gubernur: Mencontoh Bali Menjual Wisata Budaya

Keretak – Rustam Effendi Gubernur Kepulauan Bangka Belitung ingin agar kebudayaan daerah dapat dijual untuk menarik wisatawan berkunjung. Seperti acara ruwah kubur di Desa Keretak, Kecamatan Sungai Selan, Kabupaten Bangka Tengah. Setiap tanggal 12 Sya'ban 1437 H, warga Desa Keretak tersebut menggelar kegiatan yasinan akbar, nganggung atau makan bersama.

“Kegiatan ini sudah menjadi acara kabupaten, provinsi dan juga menjadi agenda nasional. Ke depan akan mengundang tokoh berpengaruh agar dapat menyaksikan tradisi ini,” kata Gubernur di hadapan masyarakat Desa Keretak, Kecamatan Sungai Selan, Selasa (19/5/2016).

Lebih jauh Gubernur mengatakan telah menggaungkan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagai daerah tujuan wisata. Kondisi Pulau Bali sudah penuh dan sesak dan Bangka Belitung dapat mencontoh Bali yang telah berhasil mempromosikan kebudayaan lokal. Sehingga ada wisata pilihan selain wisata bahari yang dapat dipromosikan untuk mendatangkan wisatawan.

“Diharapkan Bangka Belitung bisa seperti Bali. Wisatawan bisa datang untuk menyaksikan ritual yang ada di Bangka Belitung, salah satunya ruwah kubur. Kegiatan yang telah dilakukan setiap tahun ini hendaknya dapat dijaga agar tidak terkikis budaya asing,” tegas Gubernur.

Hal senada dikatakan Ibnu Saleh Wakil Bupati Bangka Tengah. Menurutnya, pemerintah daerah sangat mendukung seutuhnya acara ruwah kubur ini. Ke depan acara ini akan didesain lebih menarik untuk menarik minat wisatawan.

Sebagaimana diketahui, sekitar pukul 06.00 WIB warga Keretak sudah mulai berdatangan ke kuburan untuk berziarah dan yasinan akbar. Usli Kepala Desa Keretak mengatakan, kegiatan ruwahan di Desa Keretak berbeda dengan ruwahan di desa lain, karena di daerah ini acara dikemas secara istimewa. Ruwah kubur memiliki makna agar manusia selalu ingat dengan kematian.

“Ruwahan menyadarkan kita ada alam lain selain di dunia. Untuk itu, kita diminta selalu bertaqwa kepada sang pencipta. Ruwah kubur ini juga berarti mendoakan dan mengingat leluhur yang  telah mendahului. Sebagai manusia yang masih hidup ikut mendoakan,” jelasnya.

Jargon Bangka Belitung sebagai daerah Sepintu Sedulang sangat kental terasa saat peringatan ruwah kubur di Keretak. Masyarakat bergotong royong dan secara sukarela membawakan makanan menuju ke tempat pelaksanaan tradisi. Setiap kepala keluarga membawa satu dulang sebagai cerminan karakter masyarakat yang menganut paham "berat sama dipikul ringan sama dijinjing".

Suryono warga Desa Keretak menyambut baik acara ruwah kubur ini. Ia menilai kegiatan ini sebagai refleksi diri untuk menjadi manusia yang lebih baik. Sebab ruwah kubur mengajarkan manusia selalu ingat kematian serta mengajarkan kepada anak agar mendoakan orangtua.

"Ku senang dengan acara ini. Ngajak anak yasinan,” jelasnya.

Sumber: 
Dinas Kominfo Babel
Penulis: 
Evani
Fotografer: 
Nona Dian Pratiwi
Editor: 
Huzari | Adi Tri Saputra