Gubernur: Pertahankan Budaya Mandi Belimau!

Merawang – Kendati perkembangan teknologi semakin pesat, namun Rustam Effendi Gubernur Kepulauan Bangka Belitung mengajak masyarakat agar tetap mempertahankan acara adat Mandi Belimau. Pasalnya banyak manfaat acara adat tersebut, di antaranya meningkatkan rasa gotong royong.

Tradisi Mandi Belimau merupakan ritual turun temurun masyarakat Desa Jada, Limbung dan Desa Kimak. Diperkirakan kegiatan ini sudah ada sejak 300 tahun lalu, dan kepercayaan masyarakat setempat tradisi ini diperkenalkan pertama kali oleh Depati Bahrin, bangsawan keturunan kerajaan Mataram, Jogyakarta.

Menurut cerita masyarakat setempat, adat ini dimulai saat Depati Bahrin dikejar pasukan Belanda hingga sampai ke Pulau Bangka. Ketika itu pula, Depati Bahrin melakukan ritual mandi pertaubatan atau lebih dikenal dengan sebutan Mandi Belimau.

Masyarakat dan petinggi pemerintah terlihat menyatu dalam acara adat ini. Ritual tahunan ini berlangsung seminggu sebelum Ramadan. Adapun lokasi pelaksanaan berada di tepi Sungai Limbung, Desa Limbung, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka. Saat pelaksanaan, Minggu (14/6/2015) tampak hadir H Zainal keturunan Depati Bahrin.

Gubernur mengharapkan prosesi upacara adat Mandi Belimau jangan pupus oleh kecanggihan teknologi yang semakin terdepan. Gali khasanah budaya yang sudah menjadi ciri khas masyarakat Bangka Belitung, seperti tradisi adat Sepintu Sedulang (nganggung).

“Tradisi nganggung yaitu membawa makanan secara bergotong royong menuju masjid untuk dinikmati bersama-sama. Kita telah menerapkan istilah duduk sama rendah, berdiri sama tinggi,” ungkapnya, Minggu (14/6/2015).

Sebagaimana biasanya, Gubernur menjadi orang pertama mendapat kesempatan Mandi Belimau. Sebelum Mandi Belimau, terlebih dahulu harus mengucapkan niat. Kemudian, pemimpin upacara didampingi lima laki-laki membacakan doa air di dalam kendi.

Acara pemandian dimulai dengan membasahi telapak tangan kanan dan kiri. Kemudian dilanjutkan menyiram kedua telapak kaki, setelah itu membasuh ubun-ubun dan terakhir membasahi seluruh badan.

Menurut Gubernur, acara adat ini merupakan salah satu cara mengenang jasa Depati Bahrin dan sebagai aset tradisi budaya untuk menarik wisatawan nusantara maupun luar negeri. “Saya beserta jajaran pemkab dan Pemprov Babel akan memperjuangkan beliau (Depati Bahrin) sebagai pahlawan nasional," tegasnya.

Sementara KH Ilyasak tokoh adat dan Pemimpin Pondok Pesantren Desa Kimak mengungkapkan, masyarakat desa meyakini dengan menyelenggarakan upacara adat Mandi Belimau, ibadah puasa berjalan lancar dan segala yang diinginkan tercapai. Keinginan dapat terwujud dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui salat dan dzikir serta bersalawat.

“Selain itu melakukan sunah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW selama Ramadan. Tanamkan semangat dan ikhlas dalam menjalankan ibadah kepada Allah SWT, niat yang tulus agar kita termasuk orang bertaqwa," ungkapnya.

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Reni
Fotografer: 
Karina
Editor: 
Huzari