Gubernur: Teladani Sikap Taat Nabi Ibrahim AS

Pangkalpinang – Masyarakat muslim hendaknya dapat meneladani sikap taat Nabi Ibrahim. Ketaqwaan dan ketaatan tersebut dibuktikan dengan selalu menjalankan perintah Allah SWT, walaupun harus mengorbankan anak kesayangannya. Ini merupakan salah satu hikmah yang dapat dipetik pada hari raya Idul Adha.

Demikian disampaikan Rustam Effendi Gubernur Kepulauan Bangka Belitung sebelum pelaksanaan salat Ied Idul Adha di Halaman Kantor Gurbernur, Minggu (5/10/2014). Bertindak sebagai imam salat Ied kali ini yakni Syahirman Inspektur Inspektorat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Sementara Syahruddin Sekda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagai khotib.

“Sikap Nabi Ibrahim perlu kita teladani. Selain itu saya harapkan jemaah dapat menjalankan ibadah salat Ied ini dengan khusuk,” tegasnya Gubernur.

Hal senada disampaikan Syahruddin saat berkhotbah. Ia menjelaskan, bersama dengan jemaah muslim yang sedang menjalankan ibadah haji, di sini umat muslim juga mengerjakan ibadah terkait pelaksanaan haji. Melakukan ibadah puasa hari arofah, pemotongan hewan kurban menggemakan takbir, tahlil dan tahmid selama hari tasyrik.

“Semua yang kita lakukan itu sama, yaitu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Salah satu yang sangat kita butuhkan dalam hidup ini adalah mendapatkan figur-figur teladan untuk memberikan warna positif dalam kehidupan kita,” jelasnya.

Oleh sebab itu, jelasnya, Allah SWT menjadikan figur Nabi Ibrahim AS dan putranya sebagai figur teladan sepanjang masa. Nabi Muhammad SAW juga ikut meneladani sikap Nabi Ibrahim dan Ismail tersebut. Satu dari sekian banyak keteladanan Nabi Ibrahim dan keluarganya adalah, memiliki dan menunjukan ketahanan keluarga yang luar biasa.

Maksud ketahanan tersebut, keluarga bisa berjalan baik dan keberadaannya dibuktikan dengan manfaat yang bisa dirasakan banyak orang. Ia menambahkan, aspek ketahanan yang harus dimiliki setiap keluarga. Aspek kemandirian nilai berarti memiliki nilai-nilai Islam. Selain menjalankan ajaran Islam, juga hendaknya dapat meluruskan yang tidak Islami.

“Memiliki aspek kemandirian ekonomi. Setiap manusia membutuhkan makan, minum, berpakaian, bertempat tinggal, berkendaraan dan sebagainnya. Untuk memenuhi semua itu dibutuhkan pendanaan cukup dan didapatkan dengan cara halal,” jelasnya.

Tak hanya itu. Menurutnya, umat muslim juga harus tahan terhadap goncangan keluarga. Sebab kerapkali dalam keluarga ada konflik suami dengan isteri, ganggunan keharmonisan antara menantu dan mertua, bahkan dengan orang tua sendiri. Kunci utama memperkokoh ketahanan keluarga yakni konsolidasi. Ketika ada hal-hal kurang menyenangkan, maka harus berpikir dan belajar untuk tetap berinteraksi secara baik.

“Satu hal yang dapat kita ambil dalam keluarga Nabi Ibrahim AS, terbangunnya hubungan dialogis. Meskipun Nabi Ibrahim telah meyakini ada perintah menyembelih anaknya Ismail, tapi ternyata Nabi Ibrahim berdialog dengan Ismail bahkan meminta pendapat anaknya tersebut,” ungkapnya.

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Rizky | Huzari
Fotografer: 
Rizky
Editor: 
Huzari