Ikan Kembung Sumbang Inflasi di Tanjungpandan

PANGKALPINANG - Naiknya harga jual pada sejumlah komiditi, diantaranya ikan kembung, memberi andil terhadap terjadinya inflasi di Kota Tanjungpandan, Belitung pada Desember 2014. Selain ikan kembung, beberapa komoditas yang dominan mengalami peningkatan harga adalah cabai merah, sawi hijau dan cabai rawit. Kelompok ini memberikan sumbangan inflasi 1,55 persen. "Kelompok bahan makanan pada Desember 2014 mengalami inflasi 5,23 persen, atau terjadi peningkatan indeks dari 131,83 pada November 2014 menjadi 138,74 pada Desember 2014," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Ir Herum Fajarwati MM di Pangkalpinang, Jum'at (2/1/2015). Dia mengemukakan, inflasi sebesar 3,21 persen di ibukota Kabupaten Belitung itu terjadi karena adanya peningkatan harga komoditas dari naiknya Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 126,82. Menurutnya, perkembangan harga-harga di Tanjungpandan mengalami kenaikan lebih tinggi dibandingkan daerah lain di Bangja Belitung. Kontribusi terjadi pada kelompok pengeluaran makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat, sehingga memberi andil besar terhadap terjadinya inflasi di Kota Pangkalpinang dan Tanjungpandan. "Besaran inflasi tertinggi kelompok pengeluaran terjadi pada kelompok transportasi, namun karena bobotnya lebih pada kelompok bahan makanan maka andilnya terjadi pada kelompok bahan makanan," urai Fajarwati. Dia juga tidak menepis adanya dampak dari kenaikan harga bahan bakar minyak beberapa waktu lalu. Selain itu faktor cuaca menyebabkan ekspektasi terhadap pasokan komoditas ke wilayah Bangka Belitung. Dijelaskan, kelompok yang memberikan andil bagi inflasi pada Desember 2014 yaitu kelompok bahan makanan 1,55 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,53 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar naik 0,24 persen. Sementara pada kelompok kesehatan 0,02 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,02 persen, serta kelompok transport, komunikasi dan jasa keuangan 0,87 persen. Sedangkan penurunan indeks terjadi pada kelompok sandang, yaitu sebesar 0,17 persen. Di Kota Pangkalpinang, kata dia, terjadi inflasi sebesar 2,58 persen pada bulan yang sama dengan IHK sebesar 118,26. Padahal di bulan November 2014, juga terjadi inflasi sebesar 1,10 persen dengan IHK115,29. Tingkat inflasi tahun kalender (Januari-Desember) 2014 dan tingkat inflasi dari tahun ke tahun (Desember 2014 terhadap Desember 2013) masing-masing sebesar 1,23 persen. Berbeda dengan Tanjungpandan, komoditas ikan kembung, cumi, bawang merah, ikan bulat, ikan tongkol di Kota Pangkalpinang justeru mengalami penurunan harga. Sedangkan kenaikan harga pada komiditi antara lain bensin, beras, tarif listrik, udang basah, ikan selar, bahan bakar rumah tangga, daging ayam ras, angkutan udara, batu dan cabai rawit. Fajarwati kembali mengingatkan, IHK merupakan salah satu indikator ekonomi untuk mengukur tingkat perubahan harga baik inflasi maupun deflasi di tingkat konsumen. Sejak awal Januari 2014, pengukuran inflasi di Indonesia menggunakan IHK tahun dasar 2012=100. Ada beberapa perubahan dasar mendasar dalam penghitungan IHK baru dibandingkan IHK lama 2007=100. Terutama mengenai cakupan wilayah, paket komoditas, dan diagram tambang. Perubahan tersebut didasarkan pada survey biaya hidup 2012 yang dilaksanakan BPS sebagai salah satu bahan dasar utama dalam penghitungan IHK. (nata/reni/ism-tim mc)

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Nata | Reni | Ismail
Fotografer: 
Reni | Ismail
Editor: 
Ismail